Home Entertainment ASAL MUASAL PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA DAN SILSILAH NASABNYA DARI TAUTAN walisongo...

ASAL MUASAL PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA DAN SILSILAH NASABNYA DARI TAUTAN walisongo BA ALAWI.

266
0
Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqah al- Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN)

Bismillaah,
ASAL MUASAL PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA DAN SILSILAH NASABNYA DARI TAUTAN walisongo BA ALAWI.
Diantaranya
“Permata” Keturunan Walisongo
1
Sayyid Mahmoed Azmatkhan
Imam Bonjol Azmatkhan (Pahlawan perang dari Minangkabau)
Pangeran Diponegoro Azmatkhan (Pahlawan perang Jawa)
Sultan Mahmud Badaruddin Azmatkhan (Pahlawan Perang Palembang)
Syekh sayyid ulama hijaz Nawawi Bin Umar Al Bantani Azmatkhan (ulama besar dunia)
Kyai Marogan Azmatkhan Palembang (Ulama besar palembang)
Syaikhona KH M Cholil Azmatkhan Bangkalan (paku ulama jawa)
Habib Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh (ulama Ahli nasabnya walisongo)MURSYID TORIQOH TQN SYEHK TOLHAH CIREBON.
Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ry Azmatkhan (Pendiri NU) KH TUBAGUS JAUHARI UMAR/sohubul manaqib. kh said aqil siraj (KETUM PBNU) KIYAI makruf amin (MUI dan ROIS SYURIAH PBNU) KIYAI ABBAS BUNTET pesantren gurunya GUS DUR , MBAH SOLEH BENDAKEREP. Mbah KH ASRORI AL ISHAQI
Mbah KH Muhammad Dahlan Azmatkhan (Pendiri Muhammadiyah) Alqutub KHR As’ad Syamsul Arifin Azmatkhan (ulama besar NU)
Abuya Dimyati Banten ,Abuya Nahrowi tanah baru Bogor ,Abuya tubagus Bakri (mama bakri purwakarta) Mbah mahrus aly lirboyo,mbah chudori tegal rejo Magelang,Mbah Hamid pasuruan,KH Muhammad hasan probolinggo,syeh asnawi caringin banten ,Tuan Guru Marzuki (mufti betawi) Syeh tubagus Falaq bogor (gurunya Abah guru sekumpul yg jama’ahnya terebsar se Asia )Abah guru sendiri tautan nasab dari ibu beliau ke sepupunya SUNAN GIRI.Dan abah beliau ke abu bakar alhindi asolabiah al idrus Dan masih banyak lagi Menyebar Seluruh INDONESA .
───────────────────────
Maulana Habib lutfi bin yahya: Di Indonesia kekayaan Aulia’nya itu nomor 2 setelah Hadramaut,kemudian Baghdad dan India.
Yang pertama masuk di tanah Jawa adalah Syaikh Jumadil Kubro (As-Sayyidi Jamaluddin Husain) Bin Ahmad Syah Jalaluddin Husain Bin Abdullah Azmatkhan Bin Amir Abdul Malik Bin Alwi ‘Ammil Faqih Bin Muhammad Shahib Marbath.
Yang saya kagum adalah Sayyid Ahmad Syah Jalal, putra dari Abdullah Azmatkhan. Salah satu Wali,dan ibunya orang India.
Imam Abdullah mempunyai 5 putra, yang pertama Ahmad Syah Jalal yang masuk ke daerah Kamboja, didaerah itu ada Desa atau Kota namanya Campa dan Anam. Campa masyhur dengan putri Campa. Disitu agamanya masih berbeda, dan sering terjadi keributan dan perang yang tiada habisnya. Datang Imam Ahmad Syah Jalal, sebagai Ahli BaitinNabi Saw. Menjadi sebab juru selamat dengan akhlaqnya yang luar biasa menyatukan 2 kerajaan Anam dan Campa. Dan kedua Kerajaan itu menyerahkan kedudukannya kepada Imam Ahmad Syah Jalal dan ditunjuk sebagai Rajanya. Yang meninggal didaerah Anam.
Dan putranya yang pertama Imam Jamaluddin Husain, ibunya adalah Putri Campa.
Kemudian Imam Jamaluddin Husain mempunya anak
Yang ada di Indonesia adalah Imam Hisyamuddin yang dimakamkan di Banten.
Kemudian Barokat Zainal Abidin, Ayah Dari Maulana Malik Ibrahim.
Yang pertengahan, Al Imam Ibrahim Asmoroqondi Ayahnya Sunan Ampel, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang) Dan Sunan Ali Al Murtadho (Sunan Mbedilan), makamnya di Gresik.
Kanjeng Sunan Mbedilan mempunyai anak namanya Kanjeng Usman Haji makamnya di Mandalika, terkenal dengan Sunan Mandalika, dekat dengan Jepara.
Saya kagum dengan Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel) anaknya ada 11, Putra-putrinya menjadi orang-orang yang sangat luar biasa, yaitu:

  1. Sayyid Hasyim atau Maulana Qosim (Sunan Drajad), ahli ekonomi, ahli tasawuf, ahli sastra dan seniman.
    Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Kitab Sejarah Walisongo yang berasal dari catatan KHR. Abdullah bin Nuh Bogor, diterangkan bahwa Sunan Drajat adalah Bapak pendiri Al-Aitam Pertama (Rumah Yatim Pertama).
    Sunan Drajat yang menurunkan Sunan Nur Rahmat Sendang Dhuwur, yang berputra
    •Sayyid Abdul Qodir,berputra
    •Sayyid Abdul Qohir (Adipati Gampang) berputra,
    •Aryo Hadiningrat 1,berputra
    •Aryo Hadiningrat 2,berputra
    •Raden Bukuh,berputra
    •Raden Husain Rahmatillah (Raden Among Negoro), Bupati Pekalongan pertama dijaman Sultan Agung, berasal dari Pasuruan, yang dimakamkan di Sapuro Pekalongan,berputra
    •Raden Qosim atau Jayeng Rono 1, Bupati Wiroto,berputra
    •Raden Muhammad atau Jayeng Rono 2,Bupati Wiroto ,berputra
    •Sayyid Ahmad Husain Rahmatillah , Bupati Batang.
    Sunan Drajat Pendiri rumah yatim pertama bedanya tidak membuat bangunan. Yang mengumpulkan anak yatim pertama. Tiap hari di temui setiap rumahnya yang ada yatimnya kemudian dikumpulkan di Masjid, maghrib diajak belajar, isya’ sudah makan bersama kemudian diajak pulang kerumahnya masing masing. Melakukan itu semua setiap hari, kantongnya tidak pernah rapat.
    Makanya sejak wafatnya Sunan Drajat,dari anak anak sampai orang orang tua semuanya menangisi karena kehilangan seorang pengayom dan pelindung umat. Karena Sunan Drajat Mengikuti sunahnya Kanjeng Nabi Saw.
    Kanjeng Nabi Saw kalau hari Raya Idul fitri, setelah shalat Id, kanjeng Nabi Saw duduk didepan Masjid bersama Shahabatnya. Kanjeng Nabi Saw dari jauh melihat kearah pucuk tebing gunung ada seorang anak.
    Menurut Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Kanjeng Nabi Saw itu mempunyai keistimewaan, tingginya Kanjeng Nabi Saw itu kalau di dekati orang Hijaz yang tingginya 2 meter lebih, tetep tinggi Kanjeng Nabi Saw. Berjalan didekati orang yang tingginya 170 cm. Tetep tinggi Kanjeng Nabi Saw.
    Jarak pandang Rasulullah Saw. Didekat dan jauh sama saja. Pendengarannya juga demikian.
    Makanya bisa melihat anak kecil umur 7 tahun di atas tebing.
    Kalau melihat anak anak kecil di Madinah terkepung beberapa gunung gunung.
    Kemudian Kanjeng Nabi Saw mendekati kearah tebing, “Hai anak kecil yang berselimut sorban”, melihat teman temannya dibawah, terkadang sorbannya ditutupkan kewajahnya,terkadang dibuka, sebab agar tidak ketahuan.
    Kanjeng Nabi Saw dari belakang memberi salam “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Anak itu mendengar salam dari Kanjeng Nabi Saw, langsung berdiri dan merangkul Kanjeng Nabi Saw karena sangat bahagianya. Diusap usap kepala anak itu,dan didudukkan diatas dekapan Beliau.
    Kanjeng Nabi Saw bertanya, “kenapa tidak ikut merayakan hari raya bersama dan ditebing sendirian, dari mana nak? “
    dijawab dengan kepolosan dan kelucuannya, “Aku malu ya Rasulullah.”
    ini lho, pakaianku penuh tambalan Ya Rasulullah, dibelakangku juga”.
    Pakaian belakangnya itu sudah sobek, Kanjeng Nabi melihat dan senyum memperhatikan anak yang ada dipangkuannya. Kemudian Beliau bertanya, “Ayah kamu dimana nak?”
    ketika ditanya seperti itu, anak itu menundukkan kepalanya.
    Dengan suara pelan anak itu menjawab “Ayahku sudah meninggal diperang Uhud ya Rasulullah “.
    Rasulullah kaget terhentak mendengar jawaban anak itu,ternyata anak itu yatim.
    Kemudian Beliau tanya lagi, “dimana ibumu nak”.
    Anak itu menjawab, “ibuku menikah lagi demi aku ya Rasulullah, sampai saat ini belum kembali,makanya aku disini menunggu.”
    Lalu anak itu diangkat oleh Rasulullah Saw ,di sandarkan dipundak Beliau, dan Beliau berkata “Hai nak, jangan takut,Aku sekarang ayahmu, Aku sekarang keluargamu” dipanggul oleh Kanjeng Nabi Saw dan dibelikan pakaian yang bagus ,dimandikan dan dipakaikan pakaiannya oleh Baginda Nabi Saw digandeng di Masjid dan dipangku oleh kanjeng Nabi Saw dipanggilkan teman temannya untuk bermain bersama. Kanjeng Nabi Saw. berkata kepada anak itu,”sana bermain nak, Ayahmu disini menunggumu nak, Kalau ada perlu apa apa, jangan khawatir Saya disini.”
    Itulah Kanjeng Nabi Saw. Itu termasuk Sunan Drajat mengikuti Kanjeng Nabi Saw kantongnya tidak pernah rapat.
  2. Gurunya para Ratu, gurunya para Wali dan Ulama’ ,gurunya para Senopati, Sulthan, Adipati, dan para santri. Yaitu Al Imam Quthbil Ghaust Sayyidi Ibrahim Alias Sunan Bonang.
    Sampai ada pepatah, kalau kamu masuk ke Jawa tidak Ziarah ke Tuban, sama saja kamu masuk Madinah tetapi tidak bisa Ziarah ke Kanjeng Nabi Saw. Itu menuduhkan pangkatnya Sunan Bonang.
  3. Orang yang paling terkenal, Orang yang sangat arif bijaksana dalam menentukan hukum menjadi peranan di Demak, yaitu Sayyid Zainal Abidin (Sunan Qodhi Demak),
  4. Ahli ekonomi,yang berhasil luar biasa ,ahli fiqih dan muhadist, yaitu Al Imam Sunan Kudus (Imam Asqolani, Ibnu Hajarnya tanah Jawa).
    Yang diterapkan Sunan Kudus, sehingga Pangeran Poncowati tunduk kepada Sunan Kudus karena Sunan Kudus melarang hari raya besar memotong sapi,bukan mengharamkan. Karena Mayoritas pada waktu itu agamanya Hindu. Sunan Kudus tidak mau melukai, tidak mau melukai diantara agama, menjaga kesatuan dan persatuan dan menjaga bagaimana rahmatal lil ‘alamin.
    Dengan sajak dan sastranya, pidatonya Beliau Radhiallahu ta’ala anhu tentang masalah sapi, dengan mengetahui kebijakan yang luar biasa,langsung Pangeran Poncowati taslim, menyerahkan kerajaannya kepada Sunan Kudus Bin Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel).
    Salah satu Nasab ada yang bilang kalau Sunan Kudus adalah anak dari Sunan Usman Haji. Tapi saya melihat dari kitab Maktab Daimi maupun di Mesir dan ahli Nasab semua mengakui anak dari Sunan Ampel.
  5. Sayyidi Abdul Jalil (Sunan Bagus Jepara) ,seorang tasawuf, sufi tapi fuqaha yang luar biasa.
  6. Sayyid Ahmad Husyamuddin (Sunan Lamongan) ,waktu lahirnya persis sama seperti wafatnya Sunan Ampel.
    Makanya dinamai Ahmad bin Ahmad. Ahmad Husyamuddin Bin Ahmad Rahmatillah ,itu adat orang Arab. Kalau ditinggal wafat oleh Ayahnya pasti dinamai sama dengan Ayahnya.
  7. Putrinya Sunan Ampel, Waliyah, Khafidhoh, Alimah, Sayyidah Asyiqoh binti Ahmad Rahmatillah, yang menjadi istrinya Maulana Sulthan Abdul Fatah Demak.
  8. Dewi Ruqoyyah, istrinya Al Imam Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri),
  9. Dewi Aisyah , istrinya Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) MAULANA SYARIF HIDAYATULLOH bin syarif abdullah bin ali nur alam bin syeh sayyid jumadil qubro terus sampe imam alwi ammul faqih beliau ahli strategi dakwah dan perang sehingga mempunyai wilayah yg sangat luas dari cirebon sampe banten dan menjadi sultan banten putranya yg bernama maulana HASANUDDIN dan dijakarta ada menantunya pangeran jayakarta.

PANGERAN JAYAKARTA/SAYYID FATAHILAH AZHMATKHAN AlHUSAINI

BELIAU adalah PENDIRI IBU KOTA JAKARTA
,karna SAYYID FATAHILAH menantu dari SYARIF HIDAYATULLAH (sunan gunung Jati) orang CIREBON suka memanggil SUNAN GUNUNG JATI 2 kepada Sayyid Fatahilah

Menurut Sayyid Bahruddin Azmatkhan dalam kitabnya Al-Mausû’ah Li Ansâbi Al-Imam Al-Husaini, adapun nasab dari Fatahillah terutama jalur nasab ayahnya adalah sebagai berikut :

  1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW
  2. Sayyidah Fatimah Azzahra
  3. Al-Imam Sayyidina Husein Asshibti
  4. Al-Imam As-Sayyid Ali Zaenal Abidin
  5. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al Baqir
  6. Al-Imam As-Sayyid Ja’far Asshodiq
  7. Al-Imam As-Sayyid Ali Al Uraidhi
  8. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Annaqib
  9. Al-Imam As-Sayyid Isa Arrumi
  10. Al-Imam As-Sayyid Ahmad Al Muhajir
  11. Al-Imam As-Sayyid Ubaidhillah/Abdullah
  12. Al-Imam As-Sayyid Alwi Al Awwal/Alwi Al Mubtakir (cikal bakal lahirnya Keluarga Besar/ Bani Alawi
  13. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Shohibus Souma’aH
  14. Al-Imam As-Sayyid Alwi Atsani/Alwi-Shohib Baitu Jubair
  15. Al-Imam As-Sayyid Ali Kholi’ Qosam
  16. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Shahib Marbath
  17. Al-Imam As-Sayyid Alwi Ammul Faqih
  18. Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan
  19. Al-Imam As-Sayyid Abdullah Amirkhan
  20. Al-Imam As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaludin
  21. Al-Imam As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro I
  22. Al-Imam As-Sayyid Sultan Barakat Zaenal Alam
  23. As-Sayyid Maulana Maghfur/Maulana Abdul Ghafur
  24. As-Sayyid Maulana Mahdar Ibrahim Patakan/Mufti Kesultanan Pasai
  25. As-Sayyid Fathullah / Ahmad Fathullah / Fatahillah / Fadhillah Azmatkhan/ Wong Agung Paseh / Falatehan / Tubagus Pasai/ Laksamana Khoja Hasan / Pangeran Jayakarta
    Sangat jelas dalam nasab ini jika Fatahillah nasabnya masih merupakan keluarga besar Walisongo, karena kakeknya yang nomor 21 yaitu Al-Imam Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro adalah nenek moyangnya Walisongo, sedangkan kakeknya yang 22 adalah Maulana Abdul Ghofur. Maulana Abdul Ghofur adalah adik dari Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan yang merupakan walisongo angkatan pertama. Artinya Maulana Malik Ibrahim masih terhitung kakek dari Fatahillah, karena Maulana Abdul Gafur adik dari Maulana Malik Ibrahim. Adapun jika ditinjau dari jalur ibunya , nasab Fatahillah adalah :
  26. Nabi Muhammad Rasulullah SAW
  27. Sayyidah Fatimah Azzahra/Fatimah Al Batul
  28. Al Imam Sayyidina Husein Asshibti
  29. Al Imam As-Sayyid Ali Zaenal Abidin
  30. Al Imam As-Sayyid Muhammad Al Baqir
  31. Al Imam As-Sayyid Ja’far Asshodiq
  32. Al Imam As-Sayyid Ali Al Uraidhi
  33. Al Imam As-Sayyid Muhammad Annaqib
  34. Al Imam As-Sayyid Isa Arrumi
    10.Al Imam As-Sayyid Ahmad Al Muhajir
    11.Al Imam As-Sayyid Ubaidhillah/Abdullah
    12.Al Imam As-Sayyid Alwi Al Awwal/Alwi Al Mubtakir (cikal bakal Bani Alawi)
    13.Al Imam As-Sayyid Muhammad Shohibus Souma’ah
    14.Al Imam As-Sayyid Alwi Atsani/Alwi Shohib Baitu Jubair
    15.Al Imam As-Sayyid Ali Kholi’ Qosam
    16.Al Imam As-Sayyid Muhammad Shahib Marbath
    17.Al Imam As-Sayyid Alwi Ammul Faqih
    18.Al Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan
    19.As-Sayyid Abdullah Amirkhan
    20.As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaludin
    21.As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro Wajo
    22.As-Sayyid Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi
    23.As-Sayyid Maulana Ishak Azmatkhan
    24.Syarifah Musallimah Azmatkhan (MELAHIRKAN FATTAHILLAH)
    Artinya ayah dan ibu Fatahillah sama-sama Azmatkhan Al-Husaini, kedua-duanya berasal dari rumpun nasab yang sama yaitu Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro Wajo. Ibu dari Fatahillah adalah adik kedelapan dari Sunan Giri Azmatkhan (Maulana Muhammad Ainul Yaqin), artinya Fatahillah adalah keponakan dari Sunan Giri. Fatahillah juga merupakan cucu keponakan dari Sunan Ampel Azmatkhan, karena Maulana Ishak adalah kakak dari Sunan Ampel Azmatkhan. Jadi jelas dari uraian nasab ini Fatahillah adalah masih merupakan bagian penting keluarga besar Walisongo.
    Di Jayakarta kelak Fattahillah banyak menurunkan-pejuang tangguh yang salah satunya adalah Guru Amin dari Kalibata, Pejuang Betawi yang legendaris dari rumpun keluarga besra Pangeran Sanghyang yang merupakan keturunan Pangeran Sendang Garuda bin Fattahillah dan dimakamkan di Cirebon. Disamping itu, salah satu anak Fattahillah yaitu Pangeran wijayakusuma yang dimakamkan di Jelambar Jakarta Barat juga kelak menjadi tokoh besar. Keturunannya yang lain yang berada di lampung adalah Raden Inten yang merupakan musuh besar penjajah Belanda, juga beberapa ulama besar di palembang juga banyak keturunan dari Fattahillah, belum lagi yang berada di Malaka dan juga Aceh. Intinya Fattahillah adalah tokoh besar Islam Nusantara. sehingga sangatlah wajar jika keberadaannya dhormati masyarakat Aceh, Malaka, Demak, Cirebon, Banten, Ternate, Lampung, Palembang, sehingga sangatlah ironis jika ada orang Jakarta justru melecehkan pahlawan besar Nusantara ini.
    Melecehkan Fattahillah yang jelas merupakan ulama, pejuang, mujahid, itu sama saja menunjukkan bahwa mereka yang melakukan hal negatif itu buta akan sejarah pejuang yang Agung ini…
    Al Fatehah10. Dewi Muthmainah, istri dari alim alimnya para Walisongo di jaman itu, yaitu Sayyid Abdurrahman Ar Rum,
  35. Dewi Hafsah, Istri dari Sayyid Ahmad Ibnu Yahya Al-Yamani.
    Inilah yang saya kagum, putra putrinya menjadi orang yang sangat luar biasa. Itulah tanda, bagaimana generasi tua bisa melahirkan generasi penerus yang luar biasa.
    Mudah mudahan ini menjadi contoh bagi kita semua, mampukan atau tidak akan bisa melahirkan re generasi penerus pembangunan agama ,umat dan bangsa ini hingga lahirlah bangsa bangsa, umat umat indonesia siap menjawab tantangan umat dan bangsa, sehingga kita tidak menjadi golongan yang mengecewakan sesepuh ,leluhur dan para ulama kita.
    Saya tidak butuh jawaban “Tidak”, tapi tunjukkan kalau kita tidak menjadi orang orang yang mengecewakan Baginda Nabi Saw , Ulama ,Leluhur leluhur kita. Wallahu a’lam (M. Tafsir-Pekalongan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here