Home ARTIKEL CINTA TANAH AIR SEBAGIAN DARI IMAN

CINTA TANAH AIR SEBAGIAN DARI IMAN

250
0
Perang 10 November di Surabaya adalah perang paling heroik yang pernah ada di bumi Nusantara. Para pejuang Indonesia berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan lengkap. Bahkan mereka telah mengepung kota dari seluruh daratan, laut dan udara. Meski begitu, para pejuang Indonesia tidak sedikitpun gentar menghadapi musuh. Mengapa ?, Karena di belakang mereka ada para ulama yang turut mengangkat senjata. Ada Kiai Abbas Buntet yang menjadi pemimpin tentara di udara. Ada Kiai Mahrus Aly Lirboyo yang menjadi panglima tentara di darat. Seluruh ulama dan santri Nusantara serta rakyat bersatu padu mempertahankan keutuhan negara. Berbicara tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tentunya kita harus menengok histori pada awal kemerdekaan. Kita akan selalu teringat pada peristiwa perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan teringat sosok orang orang yang alim diantaranya Syekh Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbulloh, Kiai Bisri Syansuri, Kiai As’ad Syamsul Arifin dan ulama-ulama Nusantara terdahulu. Pada saat itu para ulama berkumpul dalam satu meja. Sebelumnya, tak pernah para ulama merasa resah seperti ini. Mereka memiliki suatu tanggungjawab besar yang mereka panggul, yakni merawat dan menjaga kehidupan beragama dan bebangsa masyarakat Indonesia. Tapi di kala itu, mereka harus meninggalkan masyarakat mereka sementara waktu. Mereka pergi dari rumah menuju satu titik untuk bertemu dengan ulama lainnya. Apa gerangan yang memaksa mereka meninggalkan tanggung jawab besar itu ?, Tiada lain adalah mereka telah mendapat tanggung jawab yang lebih besar yakni menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara ketika itu sedang mendapat ancaman serius dari tentara penjajah. Keadaan telah demikian genting. Maka demi kepentingan negara, para ulama rela meninggalkan kewajiban mereka sejenak kepada masyarakat sekitar. Karena menjaga negara sesungguhnya kewajiban paling besar yang ditanggung oleh ulama. Ini selaras dengan apa yang digaungkan oleh K.H. Abdul Wahab Hasbulloh: حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْمَان “Mencintai tanah air (memperjuangkan kedamaian tanah kelahiran) adalah sebagian dari Iman”. Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman, dipahami betul oleh para kiai pesantren dan santri saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun. Tanpa ghirah  dan semangat membela negara, mustahil seseorang dianggap sempurna keimanannya. Sudah barang tentu, para ulama, yang memiliki kadar keimanan yang telah tinggi, akan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk memperjuangkan kedamaian tanah kelahirannya itu. Titik tolak perjuangan para kiai – tentu, beserta santri-santrinya – berangkat dari fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pada 21-22 Oktober, Nahdlatul Ulama mengumpulkan semua kiai dan konsul Nahdlatul Ulama se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia. Dari pertemuan tersebut, K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Sontak saja, Resolusi Jihad tersebut segera disambut angkat senjata oleh segenap warga Nahdliyin, baik kiai, santri maupun simpatisannya. Menyambut seruan tersebut, para kiai kembali mengorganisir para laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hizbullah, Sabilillah, maupun laskar-laskar lokal lainnya. Hanya dengan kondisi negara yang aman dan tentramlah ajaran agama dapat dilestarikan dengan sempurna. Dalam surat al-Baqarah ayat 190 disebutkan: وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. al-Baqarah, ayat 190) Ayat di atas menegaskan bahwa kita memiliki tanggungjawab untuk mempertahankan agama Allah, yakni agama Islam. Kita harus memperjuangkan kelestarian agama kita dengan sepenuh jiwa dan raga. Kita bisa menyaksikan bagaimana perjuangan para ulama di zaman dahulu. Mereka rela turun ke medan, menghadapi langsung para musuh. Bahkan, K.H. Mahrus Aly, salah satu dari tiga tokoh Pondok Pesantren Lirboyo, memimpin perang langsung di area peperangan kala itu. Selain nama-nama di atas, juga masih banyak kiai-kiai lain yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ujung timur pulau Jawa. Mereka berjuang tanpa pamrih. Semata-mata untuk mengharap ridlo Allah dalam menegakkan Agama dan sejahteranya tanah air. Hanya dengan pekik “Allahu Akbar..!!!” dan “Indonesia Merdeka..!!!” mereka berjuang hingga titik darah penghabisan. Perjuangan para kiai dan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan inilah yang patut kita kenang dan teladani. Maka, tepat kiranya jika setiap tanggal 22 Oktober, kita peringati sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Hal ini tidak semata mengenang perjuangan masa lalu, tapi ini adalah pengingat bagi kita, untuk senantiasa berjuang mempertahankan NKRI dari berbagai kekuatan yang ingin memporak-porandakkannya. Melihat rekam histori di atas, Indonesia hari ini membutuhkan generasi seperti para ulama terdahulu yang telah mewariskan sikap tegas, pemberani dan tangguh dalam mempertahankan NKRI dari rongrongan siapapun atau golongan manapun tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Para ulama terdahulu mempunyai prinsip bahwa perbedaan merupakan suatu keniscayaan yang harus terus dipertahankan di bumi Indonesia tercinta ini. Peran ulama sangatlah vital dalam baik pada masa awal kemerdekaan Indonesia bahkan sampai kapanpun. Ulama bersama sama memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia ini. Karenanya, jangan pernah sekali-kali kita melupakan jasa para ulama. Perjuangan yang mereka lakukan bukan hanya berdiam di masjid, duduk berdzikir, memutar tasbih. Justru mereka adalah para pejuang yang paling gigih, yang tak sedikitpun melirik hal lain dalam memperjuangkan negara, selain bahwa negara harus dibela mati-matian. Negara adalah harta yang paling indah dan berharga bagi mereka. Berkat jasa mereka, kita bisa hidup di dalam negara yang damai, beribadah dan menjalani hidup dengan santun dan tentram. Janganlah sekali kali kita terprovokasi oleh golongan yang akan merusak konsensus bangsa yaitu suatu bangsa yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah perjuangan heroik yang patut kita teladani sebagai generasi penerus Nahdlatul Ulama. Sudah sepatutnya untuk dikenang, diteladani dan disyiarkan. Semoga Allah SWT.senantiasa memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita semua dalam mempertahankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathoniyah. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang aman dan damai. Mengutip dari kitab Idhotun Nasyi’in, Syekh Mustafa al-Ghulayani memberikan nasehat kepada pemuda tentang kecintaan kepada tanah kelahiran (nasionalisme) bahwa semua harapan bangsa telah ditumpahkan kepada pemuda, maka dari itu, pemuda harus bangkit, pemuda harus giat menuntut ilmu dan berperangai seperti perangai dan akhlak orang-orang terdahulu, yakni ulama. Perang 10 November di Surabaya adalah perang paling heroik yang pernah ada di bumi Nusantara. Para pejuang Indonesia berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan lengkap. Bahkan mereka telah mengepung kota dari seluruh daratan, laut dan udara. Meski begitu, para pejuang Indonesia tidak sedikitpun gentar menghadapi musuh. Mengapa ?, Karena di belakang mereka ada para ulama yang turut mengangkat senjata. Ada Kiai Abbas Buntet yang menjadi pemimpin tentara di udara. Ada Kiai Mahrus Aly Lirboyo yang menjadi panglima tentara di darat. Seluruh ulama dan santri Nusantara serta rakyat bersatu padu mempertahankan keutuhan negara. Berbicara tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tentunya kita harus menengok histori pada awal kemerdekaan. Kita akan selalu teringat pada peristiwa perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan teringat sosok orang orang yang alim diantaranya Syekh Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbulloh, Kiai Bisri Syansuri, Kiai As’ad Syamsul Arifin dan ulama-ulama Nusantara terdahulu. Pada saat itu para ulama berkumpul dalam satu meja. Sebelumnya, tak pernah para ulama merasa resah seperti ini. Mereka memiliki suatu tanggungjawab besar yang mereka panggul, yakni merawat dan menjaga kehidupan beragama dan bebangsa masyarakat Indonesia. Tapi di kala itu, mereka harus meninggalkan masyarakat mereka sementara waktu. Mereka pergi dari rumah menuju satu titik untuk bertemu dengan ulama lainnya. Apa gerangan yang memaksa mereka meninggalkan tanggung jawab besar itu ?, Tiada lain adalah mereka telah mendapat tanggung jawab yang lebih besar yakni menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara ketika itu sedang mendapat ancaman serius dari tentara penjajah. Keadaan telah demikian genting. Maka demi kepentingan negara, para ulama rela meninggalkan kewajiban mereka sejenak kepada masyarakat sekitar. Karena menjaga negara sesungguhnya kewajiban paling besar yang ditanggung oleh ulama. Ini selaras dengan apa yang digaungkan oleh K.H. Abdul Wahab Hasbulloh: حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْمَان “Mencintai tanah air (memperjuangkan kedamaian tanah kelahiran) adalah sebagian dari Iman”. Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman, dipahami betul oleh para kiai pesantren dan santri saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun. Tanpa ghirah  dan semangat membela negara, mustahil seseorang dianggap sempurna keimanannya. Sudah barang tentu, para ulama, yang memiliki kadar keimanan yang telah tinggi, akan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk memperjuangkan kedamaian tanah kelahirannya itu. Titik tolak perjuangan para kiai – tentu, beserta santri-santrinya – berangkat dari fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pada 21-22 Oktober, Nahdlatul Ulama mengumpulkan semua kiai dan konsul Nahdlatul Ulama se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia. Dari pertemuan tersebut, K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Sontak saja, Resolusi Jihad tersebut segera disambut angkat senjata oleh segenap warga Nahdliyin, baik kiai, santri maupun simpatisannya. Menyambut seruan tersebut, para kiai kembali mengorganisir para laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hizbullah, Sabilillah, maupun laskar-laskar lokal lainnya. Hanya dengan kondisi negara yang aman dan tentramlah ajaran agama dapat dilestarikan dengan sempurna. Dalam surat al-Baqarah ayat 190 disebutkan: وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. al-Baqarah, ayat 190) Ayat di atas menegaskan bahwa kita memiliki tanggungjawab untuk mempertahankan agama Allah, yakni agama Islam. Kita harus memperjuangkan kelestarian agama kita dengan sepenuh jiwa dan raga. Kita bisa menyaksikan bagaimana perjuangan para ulama di zaman dahulu. Mereka rela turun ke medan, menghadapi langsung para musuh. Bahkan, K.H. Mahrus Aly, salah satu dari tiga tokoh Pondok Pesantren Lirboyo, memimpin perang langsung di area peperangan kala itu. Selain nama-nama di atas, juga masih banyak kiai-kiai lain yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ujung timur pulau Jawa. Mereka berjuang tanpa pamrih. Semata-mata untuk mengharap ridlo Allah dalam menegakkan Agama dan sejahteranya tanah air. Hanya dengan pekik “Allahu Akbar..!!!” dan “Indonesia Merdeka..!!!” mereka berjuang hingga titik darah penghabisan. Perjuangan para kiai dan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan inilah yang patut kita kenang dan teladani. Maka, tepat kiranya jika setiap tanggal 22 Oktober, kita peringati sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Hal ini tidak semata mengenang perjuangan masa lalu, tapi ini adalah pengingat bagi kita, untuk senantiasa berjuang mempertahankan NKRI dari berbagai kekuatan yang ingin memporak-porandakkannya. Melihat rekam histori di atas, Indonesia hari ini membutuhkan generasi seperti para ulama terdahulu yang telah mewariskan sikap tegas, pemberani dan tangguh dalam mempertahankan NKRI dari rongrongan siapapun atau golongan manapun tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Para ulama terdahulu mempunyai prinsip bahwa perbedaan merupakan suatu keniscayaan yang harus terus dipertahankan di bumi Indonesia tercinta ini. Peran ulama sangatlah vital dalam baik pada masa awal kemerdekaan Indonesia bahkan sampai kapanpun. Ulama bersama sama memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia ini. Karenanya, jangan pernah sekali-kali kita melupakan jasa para ulama. Perjuangan yang mereka lakukan bukan hanya berdiam di masjid, duduk berdzikir, memutar tasbih. Justru mereka adalah para pejuang yang paling gigih, yang tak sedikitpun melirik hal lain dalam memperjuangkan negara, selain bahwa negara harus dibela mati-matian. Negara adalah harta yang paling indah dan berharga bagi mereka. Berkat jasa mereka, kita bisa hidup di dalam negara yang damai, beribadah dan menjalani hidup dengan santun dan tentram. Janganlah sekali kali kita terprovokasi oleh golongan yang akan merusak konsensus bangsa yaitu suatu bangsa yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah perjuangan heroik yang patut kita teladani sebagai generasi penerus Nahdlatul Ulama. Sudah sepatutnya untuk dikenang, diteladani dan disyiarkan. Semoga Allah SWT.senantiasa memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita semua dalam mempertahankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathoniyah. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang aman dan damai. Mengutip dari kitab Idhotun Nasyi’in, Syekh Mustafa al-Ghulayani memberikan nasehat kepada pemuda tentang kecintaan kepada tanah kelahiran (nasionalisme) bahwa semua harapan bangsa telah ditumpahkan kepada pemuda, maka dari itu, pemuda harus bangkit, pemuda harus giat menuntut ilmu dan berperangai seperti perangai dan akhlak orang-orang terdahulu, yakni ulama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here