Home ARTIKEL Rizka Maulida Pemasaran Informasi Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Dinas Perpustakaan dan...

Rizka Maulida Pemasaran Informasi Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Kabupaten ASAHAN

783
2

Pemasaran Informasi Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Kabupaten ASAHAN

Rizka Maulida

rizkamaulida98@gmail.com

Fakultas Ilmu Sosial-Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak:

            Sebagian orang beranggapan bahwa organisasi yang tidak bergerak dalam penjualan tidak memerlukan pemasaran sebab mereka masih beranggapan bahwa melakukan pemasaran memiliki arti melakukan penjualan. Namun tidak untuk perpustakaan, perpustakaan merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang jasa yang tidak berorientasi pada keuntungan finansial sehingga bebrapa orang beranggapan bahwa perpustakaan tidak memerlukan pemasaran. Anggapan ini tentu tidak benar. Perpustakaan harus mengenalkan layananannya kepada masyarakat pemakainya. Perpustakaan harus meminjamkan koleksinya pada masyarakat. Perpustakaan harus menyadarkan masyarakat agar mereka tahu kebutuhan mereka terhadap informasi, serta cara mendapat informasi tersebut.

            Kegiatan mengenalkan diri, ingin dikenal, memengaruhi, memberdayakan, dan menjual merupakan kegiatan pemasaran. Sehingga kegiatan pemasaran bukan merupakan kegiatan penjualan, melainkan penjualanlah yang merupakan bagian dari penjualan. Penelitian ini bertujuan memaksimalkan fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi bagi kalangan luas sehingga pemasaran bagi masryakat perlu dilakukan secara maksimal dnegan tujuan masyarakat agar lebih maksimal dalam mencar infomasi di perpustakaan.

Kata Kunci: Pemasaran Perpustakaan, Teknologi Informasi           

Abstract:

            Some people think that organizations that are not engaged in sales do not need marketing because they still think that doing marketing means selling. But not for libraries, libraries are organizations that are engaged in services that are not oriented towards financial gain, so some people assume that libraries do not need marketing. This assumption is certainly not true. The library must introduce its services to the user community. Libraries must lend their collection to the public. Libraries must make people aware so that they know their needs for information, as well as how to get that information.

            The activity of introducing oneself, wanting to be known, influencing, empowering, and selling is a marketing activity. So that marketing activities are not sales activities, but sales are part of sales. This research aims to maximize the function of the library as a source of information for the wider community so that marketing for the community needs to be done maximally with the aim of the community to be more optimal in seeking information in the library.

Keywords: Library Marketing, Information Technology

Pendahuluan

            Dewasa ini teknologi informasi memadukan informasi yang disimpan dalam bentuk dokumen dengan informasi yang dapat dilihat pada layar monitor yang terdiri dari kata, angka, diagram dan gambar. Model komunikasi dapat dilakukan melalui sambungan langsung (menggunakan berbagai jenis kabel) atau melalui penyiaran (broadcast). Informasi yang disajikan tidak saja dalam bentuk statis tetapi juga dinamis. Pengguna dapat berinteraksi dengan informasi tersebut dan dapat mengubahnya atau memberikan respons atau jawaban.          Perpustakaan dapat dikatakan sebagai tempat berkumpulnya informasi yang dibutuhkan. Informasi yang disediakan oleh perpustakaan berupa bahan pustaka cetak maupun non-cetak. Perpustakaan bertugas untuk mengelola dan mengembangkan bahan pustakanya agar bisa dimanfaatkan oleh pemakai perpustakaan atau biasa disebut dengan pemustaka. Di era modern saat ini, perpustakaan sebagai penyedia informasi tidak lepas dari perkembangan teknologi. Teknologi-teknologi yang berkembang memudahkan pustakawan serta pemustaka dalam pencarian temu kembali informasi. Perkembangan teknologi menjadi hal yang paling berpengaruh ke perpustakaan ialah teknologi informasi. Menurut Information Technology Assosiation of America (ITAA). Menurut Zelpida teknologi informasi adalah suatu studi, perancangan, pengembangan, implementasi, dukungan atau manajemen sistem informasi berbasis komputer, khususnya aplikasi perangkat lunak dan perangkat keras komputer.        Teknologi informasi memanfaatkan komputer elektronik dan perangkat lunak komputer untuk mengubah, menyimpan, melindungi, memproses, mentrasmisikan, dan memperoleh informasi secara aman. Maka dari itu munculnya teknologi informasi mempunyai peran penting dalam perkembangan perpustakaan khususnya pada bagian layanan perpustakaan. Layanan yang baik merupakan layanan yang berorientasi pada kebutuhan pemustaka dengan cara menyediakan segala informasi untuk berbagai kalangan. Teknologi informasi yang seiring berjalannya waktu terus berkembang memudahkan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka dengan mengembangkan layanan yang tersedia, seperti diberikannya fasilitas komputer yang terhubung dengan jaringan internet dan adanya Open Library Access Catalogue (OPAC) untuk memudahkan pemustaka dalam pencarian bahan pustaka

            Salah satu aspek penting dalam manajemen perpustakaan adalah pemasaran produk dan pelayanannya. Lembaga induk perpustakaan yang biasanya juga sebagai penyedia dana, meminta perpustakaan untuk membuktikan bahwa dana yang diberikan telah dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Statistik penggunaan sumberdaya perpustakaan merupakan senjata, setidaknya untuk mempertahankan jumlah dana yang diterima, dan seharusnya dapat pula dijual kembali untuk mendapatkan jumlah dana yang lebih besar baik kepada lembaga induknya maupun kepada donor.

            Pemanfaatan teknologi informasi untuk memasarkan produk perpustakaan telah digunakan secara luas terutama di negara yang lebih maju. Penyediaan katalog talian (online) yang dapat diakses tidak saja di dalam perpustakaan tetapi juga dari luar gedung perpustakaan merupakan salah satu contoh nyata yang dapat meningkatkan penggunaan sumberdaya yang dimiliki oleh perpustakaan. Dengan penyediaan fasilitas seperti itu, kesan masyarakat tentang perpustakaan dapat berubah sehingga mereka lebih tertarik untuk menggunakannya.

Kajian Literatur

Pengertian Teknologi Informasi

            Kata Teknologi Informasi berasal dari kata Information Technology. Pada dasarnya Teknologi informasi berasal dari dua kata yaitu teknologi dan informasi. Dalam Kamus komputer dan teknologi informasi, teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis. Teknologi yaitu ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Teknologi informasi secara implisit maupun eksplisit tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi juga mencakup teknologi komunikasi. Dengan kata lain, teknologi informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi merujuk pada seluruh bentuk teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan, mengubah dan menggunakan informasi dalam segala bentuk.

Pemasaran Layanan Perpustakaan

            Ide menerapkan pemasaran pada organisasi nirlaba bukanlah merupakan sesuatu yang baru. Kotler (1995:5) menyebutkan bahwa sebuah seri artikel tentang penerapan pemasaran pada organisasi nirlaba telah ditulis antara tahun 1969 hingga 1973. Sejak itu para profesi pemasaran muncul ke depan untuk menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pemasaran sesungguhnya mempunyai nilai-nilai produktif yang diperluas dan dapat diterapkan pada situasi dan organisasi yang berbeda. Menurut Lasa Hs layanan perpustakaan merupakan upaya pemberdayaan yang dapat berupa penyediaan jasa sirkulasi, baca di tempat, pelayanan rujukan, penelusuran literatur, penyajian informasi terbaru, penyajian informasi terseleksi, pelayanan audio visual, pelayanan internet, bimbingan pemakai, jasa fotokopi, pelayanan reproduksi, pelayanan terjemahan, pelayanan pinjam antarperpustakaan, dan pelayanan konsultasi. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa layanan perpustakaan adalah layanan yang diberikan perpustakaan kepada pemustaka dalam memanfaatkan bahan pustaka yang dimiliki.

            White (1981:37) menyebutkan dua aspek penting dalam pemasaran pelayanan perpustakaan. Pertama, langkah-langkah apa yang yang harus dilakukan dalam pembuatan suatu rencana pemasaran. Kedua, metode atau teknik apa saja yang dapat digunakan pemasaran produk/pelayanan. Pentingnya pemasaran untuk keberhasilan suatu perpustakaan tidak perlu ditekankan terlalu tinggi. Tetapi perlu diingat bahwa pelayanan dan produk yang paling innovatif dan bernilai sekalipun tidak berarti apa-apa jika pasar yang optimal untuk pelayanan dan produk tersebut tidak diidentifikasi dan/atau teknik pemasaran yang tepat tidak digunakan. Oleh karena itu, pembuatan suatu rencana pemasaran merupakan suatu komponen yang terpenting dari semua rencana perpustakaan. Setelah memiliki struktur dasar dari suatu rencana pemasaran, barulah kita mengevaluasi teknik promosi pasar yang diperkirakan potensial dan efektif untuk digunakan. Tujuannya adalah untuk memilih suatu teknik seperti brosur, iklan, kontak perorangan, dll. yang dapat mendorong masyarakat untuk memberikan respons, baik dengan menggunakan produk/pelayanan ditawarkan dengan menyimpan bahan-bahan promosi untuk keperluan yang akan datang.

Ciri sebuah lingkungan perpustakaan yang sudah memberikan akses informasi yang maksimal, seperti:

a. Akses terhadap berbagai informasi.

b. Kecepatan yang meningkat dalam pemerolehan informasi.

c. Kekompleksan yang lebih besar dalam mencari, menganalisis dan menghubungkan informasi.

d. Teknologi yang berubah terus-menerus.

e. Tingginya standardisasi perangkat keras dan lunak

Perpustakaan Dengan Teknologi Informasi

            Komputer menjadi sentral dari teknologi informasi, dan saat ini tingkat produktifitasnya semakin meningkat kira-kira 30 kali dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu, dan memberikan indikasi akan berkembang menjadi 30 kali lipat lebih produktif pada dekade yang akan datang. Untuk mengetahui perkembangan pemanfaatan komputer di bidang perpustakaan, penulis akan menjabarkan fase perkembangan automasi perpustakaan. Marquardt membagi perkembangan fungsi automasi perpustakaan ke dalam dua fase.

            Fase pertama merupakan sistem sirkulasi, pengatalogan, dan pengadaan. Penggunaan komputer untuk pengawasan sirkulasi telah menggantikan kegiatan pustakawan yang sebelumnya berbentuk manual dalam membuat file kartu-kartu buku, perhitungan denda, dan pembuatan surat tagihan untuk buku yang terlambat dikembalikan. Kegiatan pengawasan sirkulasi pada dasarnya mirip dengan pengawasan persediaan. Pada tahun 1970an, kegiatan pembuatan kartu katalog dalam Pengatalogan dipercepat dengan menggunakan bantuan komputer. Dari satu entri katalog tentang sebuah judul yang telah dimasukkan ke dalam komputer dapat dihasilkan satu set atau lebih kartu katalog yang diperlukan. Kemudian pada tahun 1980an katalog talian menggantikan kartu-kartu katalog beserta kabinetnya di beberapa perpustakaan. Sistem pengadaan terautomasi membantu pembuatan daftar buku-buku dan serial yang akan dibeli atau dilanggan, termasuk menghitung harga dan untuk pengecekan penerimaan. Sistem ini tergolong sederhana dibandingkan dengan sistem pengatalogan.

            Lalu dalam fase kedua, berbagai innovasi baru telah memperluas daya dan cakupan temu-balik informasi. Dalam lingkungan yang lebih kaya, lebih bervariasi dan kompleks, telah dihasilkan sejumlah produk yang dapat ditelusur melalui teknik penelusuran yang lebih canggih. Katalog Akses Umum Talian (KAUT) atau Online Public Access Catalog (OPAC) menawarkan lebih banyak titik akses  dari yang biasa ditawarkan oleh katalog kartu. Disamping akses melalui pengarang, judul dan subjek, OPAC menawarkan misalnya akses melalui nomor panggil (call number) dan penerbit, ditambah dengan logika Boolean, dan batasan penelusuran oleh bahasa atau format dokumen. Dengan meningkatnya permintaan terhadap artikel-artikel jurnal yang tidak dimiliki oleh perpustakaan dan meningkatnya permintaan pelayanan antar perpustakaan (interlibrary loan) telah menghasilkan hadirnya berbagai pangkalan data bibliografis dalam CD-ROM. Saat ini banyak pangkalan data yang sama dapat diakses melalui Internet.

            Pada dasarnya di era serba teknologi ini setiap lembaga organisasi perlu memaksimalkan pelayanannya dari berbagai sektor terutama bagia perpustakaan yang perlu memaksimalkan fasilitas mereka agar pemustaka ssemakin mudah mengakses informasi dan mendapatkan hasil yang maksimal. Adapun langkah yang bisa diambil oleh pihak perpustakaan diantaranya melakukan pemasaran kepada masyarakat luas agar segala layanan yang dimiliki oleh perpustakaan diketahui dan dapat digunakan secara maksimal oleh para pemustaka. Untuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Asahan, proses pemasaran ini bisa dilakukan dengan mengandalkan website yang beralamat di https://perpustakaan.asahankab.go.id/, dan juga memaksimalkannya dengan mobil keliling atau juga biasa disebut perpustakaan keliling.

Metode Penelitian

            Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif atau yang bisa disebut juga dengan interpreative research, naturalistic research, atau phenomenological research adalah pengumpulan data yang memiliki latar alamiah dengan maksud untuk menafsirkan fenomena yang sedang terjadi, dan bersifat deskriptif.  Dalam penelitian kualitatif peneliti berperan sebagai instrumen kunci, pegambilan sampel sumber data dilakukan dengan purposive dan snowball. Dan penulis melakukan pengumpulan data melalui teknik wawancara kepada pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan yang dilakukan secara online dikarenakan penelitian ini berlangsung pada saat maraknya virus CORONA.

Hasil dan Pembahasan

            Berdasarkan penelitian yang telag dilakukan oleh penulis, dapat diketahui bahwa Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan masih kurang maksimal dalam hal pemasaran informasi yang mereka miliki. Hal ini terjadi karena masih kurangnya minat para masyarakat yang ada di daerah Asahan untuk lebih giat lagi dalam dunia literasi. Pemasaran dengan mengandalkan teknologi informasi menurut saya bukanlah menjadi pilihan maksimal. Ditambah lagi, dari pihak petugas perpustakaan yang ada di Dinas Perpustakaan dan Asrip Kabupaten Asahan, yang tidak totalitas menciptakan beragam hal yang dapat menjadi wadah pemasaran perpustakaan tersebut.

            Memang pihak Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan memiliki wesbite yang dijadikan wadah untuk menginfomasikan beragam kegiatan yang mereka lakukan, namun berdasarkan pengamatan penulis, masih cukup banyak masyarkat atau pemustaka yang tidak mengetahui adanya website tersebut. Berdasarkan pengamatan penulis, website Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan ini bisa memiliki pengunjung yang banyak, bila pihak pustakawan memasarkannya secara maksimal. Namun karena pihak pustakawan belum maksimal memasarkan informasi yang mereka miliki dengan mengandalkan teknologi informasi berbentuk website tersebut, jadi masih banyak masyarakat Asahan yang belum mengetahuinya.

Kesimpulan

            Banyak orang beranggapan, diera yang serba modern ini teknologi informas menjadi cara utama dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini memanglah benar, namun semua pekerjaan itu pastilah tetap membutuhkan yang namanya usaha dari manusia itu sendiri sebagai penggeraknya. Begitu pula halnya dengan perpustakaan. Untuk memperluas jangkauan mereka agar semakin dikenal masyarakat dan memudahkan masyarakat dalam mencari informasi, tentulah perpustakaan melakukan serangkaian kegiatan yang dapat meningkatkan daya kunjung pemustaka ke perpustakaan dalam segala kondisi. Begitu pula halnya dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan dimana, pada era modern ini, pihak perpustakaan mengandalkan website sebagai salah satu sarana pemasaran fasilitas yang Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan miliki. Website menjadi wadah yang mereka pillih karena akan dianggap akan lebih mudah untuk dijangkau masyarakat luas. Namun sangat  disayangkan pihak perpustakaan tersebut berdasarkan observasi yang telah saya lakukan terasa masih kurang maksimal dalam memasarkan fasilitas mereka melalui website dan pemasaran website itu sendiri juga masih terasa kurang maksimal.

Daftar Pustaka

            Febrian, J. (2007). Kamus Komputer, Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Informatika.

            Kadir, A. (2003). Pengenalan Teknologi Informasi. Yogyakarta: Andi.

            Supriyanto, W dan Muhsin A. (2008). Teknologi Informasi Perpustakaan (Srtategi Perencanaan Perpustakaan Digital). Yogyakarta: Kanisius.

            Sutarno, NS. (2006). Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Sagung Seto.

            Tsania Nahdiatul, Dyah, dan Fitri. (2019). Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Layanan Perpustakaan IAIN Tulungagung. BIBLIOTIKA : Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi Volume 3 Nomor 2.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here