Sahabatnews.com-Palembang Kasus dugaan pelecehen yang dialami mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang menjadi sorotan.
Sorotan pun langsung tertuju kepada sosok Nyayu Khodijah yang merupakan Rektor UIN Raden Fatah Palembang. Tentang siapa sebenarnya Nyayu Khodijah yang kini menjabat Rektor UIN Raden Fatah Palembang akan diulas dalam artikel ini.
Bermula dari kasus pelecehan yang dilakukan oleh mahasiswa senior yakni PA terhadap juniornya RS viral di media sosial, nama Nyayu Khidijah kerap disebut oleh warganet. Hal itu karena Nyayu Khidijah merupakan orang yang paling bertanggung jawab di UIN Raden Fatah Palembang dengan statusnya sebagai Rektor.
Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id Nyayu Khodijah merupakan asli keturunan Palembang Sumatera Selatan yang lahir pada 25 Agustus 1970. Dan ternyata Nyayu Khodijah merupakan Rektor ke-14 sekaligus perempuan pertama yang menjabat sebagai Rektor di UIN Raden Fatah Palebang sejak 20 Juli 2020
Nyayu Khodijah menjadi Rektor UIN Raden Fatah Palembang priode 2020-2024 menggantikan H.M Sirozi yang habis masa jabatannya. Sebelum menjabat Rektor Nyayu Khodijah merupakan guru besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Raden Fatah Palembang.
Nah berikut biodata dari Nyayu Khodijah Rektor UIN Raden Fatah Palembang
Nama lengkap dan Gelar : Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah S.Ag., M.Si.
Tempat Tanggal Lahir : Palembang, Sumatera Selatan 25 Agustus 1970
Pendidikan / Almamter :
- MI Qur’aniya VI Palembang
- YPBI 14 Palembang
- SPGN Palembang
- UIN Raden Fatah Palembang
- UGM Jogjakarta
- UNJ
Pekerjaan : Dosen, Guru Besar, Rektor
Nah itulah profil dan biodata Nyayu Khodijah Rektor UIN Raden Fatah Palembang, yang dalam komentar beberapa unggahan terkait pelecehan mahasiswa banyak disebut warganet.
Sebagaimana diketahui, pelecehan yang terjadi dikalangan mahasiswa ini berbuntu pelaporan korban (RS) ke Polda Sumsel. Pasalnya, peleceha yang dilakukan oleh PA (pelaku) sudah terjadi sejak Februari 2023, bahkan sudah 5 kali dialami oleh korban.
Mirisnya lagi, UIN Raden Fatah Palembang justru mencabut beasiswa korban, karena dianggap sudah meninggalkan asrama. Padahal, tujuan RS meninggalkan asrama adalah upaya untuk menghindari pelecehan yang ia alami berulang, mengingat pelaku merupakan senior sekaligus kepala asrama.
Penulis : Sahabatnews.com
Editor : Admin1





























































