Sahabatnews.com-MEDAN Pasca terpilihnya Andar Amin Harahap secara aklamasi pada Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sumatera Utara, dinamika internal partai berlambang pohon beringin itu masih menyisakan riak. Dua arus besar pendukung—kubu Hendri Yanto Sitorus dan kubu Andar Amin Harahap—sempat berada dalam ketegangan yang cukup terasa.
Sejumlah isu pun berhembus liar. Mulai dari kabar bahwa Andar Amin Harahap tidak mendapat restu Ketua Umum Partai Golkar, hingga spekulasi Musda ulang seperti yang terjadi pada Musda X tahun 2020. Dalam lanskap politik, isu semacam ini nyaris tak terelakkan. Politik memang kerap bergerak dalam ruang abu-abu: konotatif, tentatif, dan penuh tafsir.
Namun satu hal patut dicatat, dinamika politik tidak pernah lahir di ruang hampa. Friksi, manuver, dan adu strategi adalah bagian inheren dari demokrasi internal partai. Bahkan, adagium lama kembali relevan: musuh paling nyata dalam politik adalah musuh dalam satu partai.
Di tengah pusaran itu, nama Yassir Ridho justru menjadi sorotan.
Antitesis Politik Pragmatis
Yassir Ridho bukan figur baru di Golkar Sumut. Ia dikenal sebagai kader militan yang konsisten menjalankan prinsip Karya dan Kekaryaan. Pengalamannya panjang, jejak organisasinya jelas, dan sikap politiknya relatif tenang. Bahkan saat sempat diterpa isu pemakzulan sebagai Ketua Golkar Sumut pada 2020, ia tidak menunjukkan sikap dendam politik.
Dalam sejumlah kesempatan, Yassir Ridho kerap menyampaikan kredo yang menjadi pegangan sikapnya:
“Berpolitik seperlunya, berkawan selamanya.”
Sebuah prinsip yang sejalan dengan politik zero enemy—tanpa musuh—yang kerap digaungkan Presiden Prabowo Subianto.
Pada Pilkada Kota Medan 2024, Yassir Ridho maju sebagai calon Wakil Wali Kota mendampingi Hidayatullah. Gagasannya tentang peningkatan honor kepala lingkungan dan pembangunan berbasis lingkungan mendapat apresiasi luas. Namun, ia kalah dalam kontestasi popularitas. Bagi Yassir Ridho, politik bukan sekadar alat merebut dan mempertahankan kekuasaan, melainkan jalan untuk menghadirkan kesejahteraan publik.
“Saya Sudah Pernah Menang”
Ketika namanya santer disebut-sebut sebagai kandidat Ketua DPD Golkar Sumut, Yassir Ridho justru merespons ringan.
“Tidak, saya sudah pernah menang,” ujarnya kala itu.
Penunjukannya sebagai Ketua Harian DPD Golkar Sumut kemudian dinilai sebagai pilihan strategis. Melalui pendekatan komunikasi politik yang cair dan inklusif, ia berhasil merangkul kembali sejumlah ormas sayap dan hasta karya yang sebelumnya berjarak dengan partai. Lobi-lobi politik menjelang Musda pun berlangsung relatif kondusif.
Rekam jejaknya berbicara banyak. Dua periode memimpin KNPI Sumut, ia sukses menjadi jembatan komunikasi antara Gubernur Sumut Syamsul Arifin dan Wali Kota Medan Rahudman Harahap yang kala itu kurang harmonis. Dua periode menjabat Wakil Ketua DPRD Sumut dari Fraksi Golkar semakin mengukuhkan kematangannya dalam berpolitik.
Persahabatannya dengan almarhum Baskami Ginting juga menjadi penanda: Yassir Ridho bukan ancaman bagi siapa pun, baik intra maupun antarpartai. Selama untuk kepentingan rakyat, perbedaan warna politik bukan persoalan.
Tuduhan “Kuda Troya” yang Terbantahkan
Karena itu, tudingan bahwa Yassir Ridho memainkan peran “Kuda Troya” demi memuluskan Andar Amin Harahap menjadi Ketua Golkar Sumut terasa janggal. Ia bukan politisi partisan yang dukungannya mudah ditarik ke sana-kemari. Sikapnya dikenal selektif, rasional, dan berbasis pertimbangan organisasi—mulai dari aspek administratif hingga fit and proper test, serta kalkulasi manfaat dan mudarat bagi partai dan konstituen.
Sikap wait and see yang sempat ia tunjukkan justru ditafsirkan keliru. Kehadirannya dalam deklarasi dukungan 30 DPD kabupaten/kota kepada Andar Amin Harahap dipersepsikan sebagai keberpihakan mutlak. Padahal, relasi personal Yassir Ridho dengan keluarga Hendri Yanto Sitorus—termasuk persahabatannya dengan H. Buyung—menunjukkan posisi politiknya jauh lebih cair dari sekadar hitam-putih kubu.
Islah Golkar Sumut
Puncak perannya terlihat pada pertemuan hangat yang berlangsung di sebuah kafe di Kota Medan, Senin malam. Yassir Ridho bertemu dengan Sekjen Golkar Rolel Harahap dan Ketua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus—adik kandung Hendri Yanto Sitorus. Pertemuan itu menjadi sinyal kuat bahwa rivalitas internal telah mencair.
Tak lama berselang, Andar Amin Harahap dan Hendri Yanto Sitorus dikabarkan telah berkomunikasi langsung. Islah terbangun. Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, pun telah menyampaikan ucapan selamat atas hasil Musda.
Sekali lagi, Yassir Ridho menunjukkan kelasnya. Lewat gestur dan komunikasi politik yang tenang, ia turut merajut kembali soliditas Golkar Sumut sebagai partai inklusif, menepis narasi keterbelahan, dan menutup ruang spekulasi.
Dalam konteks ini, Yassir Ridho lebih tepat disebut sebagai “tukang jahit” politik—yang merajut kembali sobekan internal—ketimbang “joki Kuda Troya” seperti yang dituduhkan sebagian pihak.
✍️ Pewarta: Victor Brahmana
✍️ Editor: Admin2































































