Sahabatnews.com-Jakarta Pelantikan Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal publik sebagai Noe Letto, sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional mendadak memantik perhatian luas. Vokalis band Letto itu resmi dilantik bersama 11 tokoh lainnya di Kementerian Pertahanan RI, sebuah posisi strategis yang tak lepas dari sorotan publik.
Namun, yang paling menyedot perhatian bukan semata jabatan barunya, melainkan rekam jejak kritik Noe yang selama ini kerap diarahkan secara terbuka kepada pemerintah. Nama Noe kembali viral setelah potongan pernyataannya beredar luas di media sosial, di mana ia pernah menyebut pemerintah sebagai pengkhianat Pancasila.
Pernyataan tersebut berangkat dari kegelisahan Noe terhadap makna Pancasila yang, menurutnya, semakin menjauh dari semangat awal para pendiri bangsa. Ia mengingatkan pemikiran Soekarno yang merangkum Pancasila dalam satu kata kunci: gotong royong.
Bagi Noe, gotong royong bukan sekadar kerja bakti, solidaritas saat bencana, atau slogan seremonial. Di era digital, nilai itu semestinya hadir dalam kebijakan publik, sistem teknologi, hingga tata kelola pemerintahan yang benar-benar memudahkan dan memberdayakan rakyat.
Ia juga menyoroti ribuan aplikasi buatan pemerintah yang dinilainya belum mencerminkan semangat gotong royong tersebut. Alih-alih menyederhanakan layanan publik, banyak aplikasi justru menambah beban administrasi masyarakat. Dalam pandangannya, kegagalan memahami Pancasila bukan sekadar persoalan tafsir, melainkan tanda bahwa dasar negara itu tidak dirawat, tidak dikontekstualisasikan, dan tidak diperbarui secara kolektif.
Kini, kritik-kritik itu kembali bergema seiring langkah Noe masuk ke lingkar strategis negara. Publik pun bertanya: apakah kehadiran Noe di Dewan Pertahanan Nasional akan menjadi jembatan kritik konstruktif dari dalam sistem, atau justru meredam suara yang selama ini lantang di luar kekuasaan?
Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti, pelantikan Noe Letto telah membuka kembali perdebatan penting tentang makna Pancasila, gotong royong, dan arah kebijakan negara di tengah tantangan zaman digital.
✍️ Pewarta: TN
✍️ Editor: Admin




























































