Sahabatnews.com-Medan Ketua Bidang Pembangunan Demokrasi dan Politik HMI Cabang Medan, Ilham Panggabean, S.Sos, menilai gelombang aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah Indonesia merupakan alarm serius atas krisis legitimasi lembaga negara, khususnya DPR dan POLRI.
Menurut Ilham, seruan keras seperti “bubarkan DPR” maupun “reformasi DPR dan POLRI” tidak boleh dipandang sekadar luapan emosi massa. Aksi ini, katanya, adalah refleksi mendalam bahwa dua institusi penting negara tengah kehilangan sebagian besar kepercayaan publik.
“Demonstrasi harus dibaca sebagai tanda bahaya. Hanya melalui reformasi menyeluruh kepercayaan rakyat bisa dipulihkan,” tegas Ilham, Minggu (31/8/2025).
Reformasi, Bukan Pembubaran
Ilham menegaskan, solusi bukanlah membubarkan lembaga negara, melainkan melakukan reformasi struktural dan substantif. Ia merinci empat langkah mendesak yang harus dilakukan:
- Meningkatkan transparansi dalam setiap keputusan politik.
- Memperkuat mekanisme pengawasan internal dan eksternal.
- Membangun kultur politik pro-rakyat, bukan sekadar retorika.
- Melakukan reformasi mendasar di tubuh POLRI, agar penegakan hukum lebih adil, proporsional, dan bebas dari tindakan represif.
“Reformasi ini hanya bermakna jika ada komitmen politik yang kuat serta partisipasi aktif masyarakat sipil,” ujarnya.
Pesan untuk DPR, POLRI, dan Presiden
Kepada DPR, Ilham mendesak agar membuka ruang dialog substantif dengan masyarakat sipil, akademisi, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya. Tanpa sikap terbuka terhadap kritik, DPR dinilai hanya akan semakin jauh dari rakyat.
Untuk POLRI, ia menekankan pentingnya transformasi kelembagaan yang nyata, bukan sekadar jargon presisi.
Sementara kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, Ilham menyerukan agar segera turun tangan secara tegas dan strategis. “Gelombang demonstrasi bisa ditunggangi pihak-pihak tertentu jika tidak ada kepemimpinan jelas. Presiden harus memastikan krisis legitimasi ini menjadi momentum pembaruan, bukan awal keterpurukan bangsa,” tegasnya.
Seruan untuk Mahasiswa dan Rakyat
Ilham juga berpesan kepada masyarakat, mahasiswa, dan pelajar agar tetap kritis namun mengedepankan cara damai. Menurutnya, aksi yang bermartabat dengan data dan argumentasi rasional jauh lebih bernilai dibanding tindakan destruktif.
“Aksi damai akan memperkuat perjuangan, sementara kekerasan hanya memberi ruang pada infiltrasi agenda tersembunyi,” tandasnya.
Menjaga Marwah Demokrasi
Di akhir pernyataannya, Ilham menekankan bahwa demonstrasi besar kali ini adalah refleksi kolektif untuk memperbaiki demokrasi Indonesia. Agenda reformasi publik, katanya, tidak sekadar memperbaiki kelembagaan, tetapi juga meneguhkan kultur politik yang etis, partisipatif, dan berpihak pada kepentingan bangsa.
“Dari titik inilah marwah demokrasi bisa dijaga, dan suara rakyat tetap menjadi fondasi utama setiap kebijakan negara,” pungkasnya.
Pewarta : TN
Editor : Admin




























































