Sahabatnews.com – Jakarta | Kongres XIX IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama) yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat (12/8/2022) menuai kecaman dari berbagai pihak hingga berbuntut suasana ricuh.
Kongres IPPNU Ricuh lantaran karena munculnya dugaan oknum yang tidak netral dalam kegiatan kongres berlangsung. Hal tersebut terjadi karena adanya keberpihakan antara panitia kongres dengan salah satu kandidat ketua,Whasfi Velasufah.
Kongres yang diikuti peserta dari berbagai wilayah IPPNU se-Indonesia ini dianggap tidak netral.
Para peserta Kongres IPPNU ricuh juga karena merasakan adanya penekanan dari panitia semenjak registrasi peserta yang tidak sesuai dengan tata tertib yang berlaku, pembagian ID Card yang tidak merata hingga nama-nama peserta kongres berbeda dengan yang telah terdaftar.
Salah satu Pimpinan Wilayah IPPNU, Nhm sangat menyesalkan atas kejadian tersebut.
“Jadi terinderifikasi para panita ini mendukung salah satu calon namanya Whasfi Velasufah dimulai dari registrasi banyaknya peserta utusan dari wilayah tidak diberikan id card, sejak semalam juga pada saat pembacaan tata tertib terjadi kericuhan karena pimpinan sidang sudah sangat jelas tidak netralkepada forum,” jelasnya.
Selain Kongres IPPNU ricuh karena tekanan itu, penekanan juga dilakukan oleh Cabang kepada Wilayah agar berpihak kepada salah satu kandidat tersebut. Hal inilah yang membuat Kongres IPPNU ricuh dan berjalan tidak semestinya dan banyak Pimpinan Cabang IPPNU yang sepakat untuk membuat Kongres tandingan.
Di sisi lain, salah satu peserta penuh, Novi Dwi, menyayangkan atas kejadian tersebut. Pasalnya forum persidangan Kongres IPPNU ricuh dan berjalan tidak pada jalur normal dimana situasi forum berjalan tidak kondusif.
“Para Pimpinan sidang selalu menunjuk dan memberikan putusan pada beberapa orang saja. Mereka tidak melibatkan dan mendengarkan suara dari setiap anggota sidang,” kata Novi, yang juga Ketua Cabang IPPNU Kota Mojokerto dikutip dari kabarbaru.co.
“Para pimpinan sidang seolah olah membaca tata tertib persidangan untuk menata dan menertibkan jalannya persidangan sehingga hak bersuara kita tereduksi oleh sistem yang mengarahkan pada calon ketua umum tertentu,” tegasnya.
Tak hanya itu, Novi menemukan praktik kecurangan dan keberpihakan sistematik yang melibatkan oknum panitia. Kecurangan lain yang terdapat pada Kongres XIX ini terdapat pada sistem registrasi. Proses registrasi yang semula digunakan untuk memastikan para peserta, telah dicemari oleh kepentingan panitia Kongres IPPNU hingga ricuh.
“Ada beberapa cabang yang sempat terlihat protes karena ID card-nya ditahan oleh oknum tim sukses calon. Padahal mereka memiliki hak suara penuh. Tak hanya itu, beberapa peserta Kongres tidak sesuai dengan nama orang, cabang/wilayah asal,” ungkapnya.
Dengan demikian, forum persidangan tidak diisi oleh peserta penuh. Kecurangan ini juga dikuatkan dengan kejanggalan pada saat proses verifikasi yang tidak dilakukan dengan verifikasi lengkap dan transparan.
Menurut Novi, kekuasaan adalah sistem yang memiliki hak dalam menggelar acara kongres ini. Namun, hal fundamental yang harus bisa dipegang ialah tidak melakukan sikap diskriminatif terhadap setiap peserta.
Penyebab utama mengenai keberpihakan panitia pusat disinyalir kuat mengarah pada penyusunan strategi untuk melancarkan calon yang mereka usung, yakni Whasfi Velasufah.
“Ini adalah instrumen yang mereka gunakan dalam membatasi para calon ketua umum lain. Sistem lain yang digunakan oleh pimpinan pusat ialah dengan membuat skema pencalonan itu tertutup dan membungkam setiap kader IPPNU. Penekanan juga dilakukan kepada wilayah dan beberapa cabang agar berpihak pada satu kandidat tersebut,” bebernya.
Pihaknya menuntut panitia bersikap netral dan tidak berpihak pada calon tertentu dengan cara tak beradab. IPPNU adalah organisasi pelajar NU yang mengedepankan asas demokrasi santun dan beradab.
Jika keberpihakan panitia pada Kongres XIX IPPNU ini tidak dihentikan, pihaknya bersama pimpinan cabang dari kota/kabupaten lainnya sepakat untuk menggelar kongres tandingan secepatnya.
Kongres IPPNU ricuh adalah hal biasa, namun tidak seharusnya itu disebabkan oleh panitia penyelenggara. Semua berharap, Kongres IPPNU yang ricuh ini bisa segera mereda. Jangan sampai Kongres IPPNU ricuh berkepanjangan.
Penulis : Sahabatnews.com
Editor : Admin7





























































