Sahabat Artikel Al kisah, setelah mendengar kabar bahwa Raja Zulkarnain hendak menginvasi daratan Cina, maka Kaisar mengumpulkan semua penasehat untuk dimintai pendapatnya. Seorang penasehat berkata “Berangkatkan sebuah kapal yang isinya semua orang tua yang sudah renta. Lalu perbekali mereka dengan beberapa jarum”.
Sesampainya Bahtera Raja Zulkarnain mendekat, lalu bertanyalah Raja Zulkarnain kepada salah satu diantara mereka “apakah Benua Cina sudah dekat atau masih teramat jauh?”
“Ketahuilah wahai Raja Agung. Benua Cina masih terlampau jauh. Saat bertolak dari Benua Cina kami lagi masih belia. Namun, sekarang lihat. Kami sudah renta dan kehilangan gigi. Dan lihatlah tongkat besi kami (menunjukkan jarum) dulu, sewaktu kami bawa dari Benua Cina, tingginya 5 hasta. Akibat Jauhnya perjalanan, tongkat kami pun mengecil sampai seperti ini. (Tun Sri Lanang: “Sedjarah Melaju”)
Sebuah afirmasi kolektif-1400 tahun yang lalu, saat Baginda Nabi Muhammada Saw memberi petunjuk untuk menuntut ilmu sampai ke Negeri Cina adalah Ramalan? Baginda Nabi bukan Ahli Nujum. Melainkan seorang pemimpin yang tidak hanya menjadi uswatun hasanah bagi kaum dan ummatnya namun juga mampu berfikir futuristik. Toh, jika kemudian hari apa apa yang pernah disampaikannya menjadi kenyataan masih bisa dicari titik keilmiahannya.
Jejak dakwah Nabi semasa hidup tentu tidak meliputi Asia Timur. Berawal di Kota Mekah, Madinah, Thaif dan Habasyah. Sepeninggalnya, resonansi terjadi mungkin bisa 2/4 dunia Waullahualambissawab.
Adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Sahabat nabi yang dikenal sebagai saudagar kaya yang pertama kali membawa risallah nabi ke negeri Cina.

Menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke-18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (“Perihal Kehidupan Nabi”), Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.
Catatan tersebut menyebutkan bahwa Saad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke China dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Etiopia.
Mereka pertama kali datang ke China sekitar tahun 30 H atau 651 M. Ini sebagaimana ditegaskan dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen.
Dijelaskan, Islam masuk ke China melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun atau pada periode 23-35 H / 644-656 M.
Satu hal yang perlu dicatat. Kedatangan Saad Bin Abi Waqqas Bersama para sahabat waktu itu adalah murni silaturahmi. Tidak membawa motif lain seperti misi dakwah ataupun berdagang. Mereka datang membawa hadiah (hidayah) sehingga diterima dengan hangat oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Sebagai tamu baru, utusan Khalifa utsman Bin Affan tidak langsung diterima oleh Kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang Kaisar kemudian memberikan izin, lantaran prilaku para sahabat Nabi sangat sesuai dengan ajaran Konfusius.
Ada beberapa point yang menjadi titik temu dalam hal ini. Pertama, tradisi memberi hadiah dalam Islam ternyata relevan dengan tradisi kekaisaran China waktu itu. kedua; prilaku dan tutur kata para sahabat Nabi seolah mengingatkan kembali tentang ajaran kemurnian ajaran konfusius yang sudah lama mereka tinggalkan.
Secara de Jure, Sahabat Nabi berhasil meneruskan gerakan moral yang diajarkan Nabi. Dan secara de facto mereka mampu mempersonifikasi wajah islam sebagai rahmatan lil alamin ke segenap penjuru dunia.
Bagaimana tidak, mereka adalah keberuntungan itu sendiri. mereka hidup dengan dan membersamai Nabi. sehingga mereka melihat langsung bagaimana nabi bersikap, bersyariat dan bersiasat.
Saat era jahilliyah (kebodohan) berlangsung–dan sudah cukup lama berlangsung Nabi pernah memberi contoh dengan masuk dalam komunitas bisnis Abu Jahal yang waktu itu sangat kapitalistik, impulsif dan manipulatif.
Kejujuran dan keterbukaan dalam berdagang adalah mata uang yang tidak berlaku waktu itu. mengurangi sukatan gandum dan mensiasati timbangan qurma adalah hal lumrah dan sangat di terima di masyarakat. walaupun inflasi waktu itu tidak terjadi, namun kecurangan dan kapitalisasi menjadi referensi primer dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Qurais.
Nabi hadir dalam bentuk ‘lian’. Mendobrak hegemoni dan tradisi bermuamallah yang kotor dengan cara yang elegan. Nabi berbisnis dengan cara yang tidak pernah sama sekali dilakukan oleh petinggi Qurais waktu itu. Apabila mereka membeli dagangan Nabi, Nabi memberi tahu modal dagangannya dan tidak menetapkan keuntungan yang diperoleh. Apabila menimbang dagangannya, Nabi melebihkan timbangan itu sampai beberapa kati.
Hal tersebut menimbulkan kegegeran bisnis dan politik di Mekkah waktu itu. kekuatan Abu Jahal dan keroninya serasa dilucuti. Masyarakat Qurais medadak sehat secara moral dan finansial. Mereka memberi gelar Al Amin (orang jujur) kepada Nabi. Tradisi kotor dan curang yang selama ratusan tahun berlangsung, perlahan digeser oleh seorang ‘anak kemarin sore’. Sampai sampai apabila Nabi berkata bahwa di depan sana sedang ada rombongan kuda membawa ghanimah (harta rampasan perang) sedang menuju kemari–namun mereka tidak melihatnya. Maka, mereka akan lebih percayaan perkataan Nabi dari pada mata mereka sendiri.
Pada moment yang yang sudah ratusan tahun ini berulang–yakni, Moment Imlek dan Isra Miraj kita sama sama merenungi dan mencari koherensi dari keduanya.
Makna Miraj hendaknya tidak melulu dimaknai sebagai proses ‘naiknya’ Nabi Muhammada SAW ke Sidratul Muntaha dengan kecepatan cahaya. Akan tetapi, dimaknai apa yang nabi bawa setelah ‘turunnya’ dari Sidratul Muntaha. Sehingga, risalah yg dibawa tidak hanya singgah dari microphone mesjid pemilik Status Quo dan seremonial belaka. kesolehan ritual sebagai bentuk kehambaan menjadi perlu namun tidak menegasikan kesolehan sosial yang juga penting. Sholat itu baik. Tetapi, sedekah juga baik. Sholat itu penting, Tetapi, berbisnis dan mengurus Negara dan bermasyarakat secara baik juga penting. Sholat itu, penting. Tapi, tidak korupsi juga tak kalah penting.
Jika kesolehan secara ritual hanya ada dalam syariat ibadah, maka kesolehan sosial bisa datang dari kebijaksanaan hidup dan keberaksaraan yang banyak dicontohkan oleh bangsa Cina.
Sebagai Bangsa, perdaban kita juga sedikit tertinggal dengan Bangsa Cina. seperti cerita di atas. Saat belum mengenal jarum, kita percaya bahwa besi kecil yang dibawa oleh bangsa Cina adalah tongkat yang menyusut
Bagaimana juga saat Wang Dahai di abad ke 17 memasuki Nusantara. Mereka meminta kerajaan Cina untuk mengirim Sarjana Tulis Baca ke Nusantara untuk mengajari orang orang Cina yang telah hadir lebih dahulu. Mereka sadar bahwa asimilasi tidak menjadi urgensi, ketika masyarakatnya niraksara, pandir dan jumud.
Eskalasi dalam Horoskop Cina adalah juga tentang membaca. Baik kuda maupun Naga, adalah teks dan sub teks yang menjadi pedoman mereka untuk menjalani kemudian hari. Keberuntungan, nahas, jodoh, kesehatan dan rezeki hanya dinggap sebagai diagram hidup. suatu kepastian. sehingga tidak ditelaah secara berlebihan, melainkan berusaha menerima segala takdir yang baik maupun yang buruk dengan lapang, baik saat menyambut tahun dan shio yang baru maupun dihari hari selanjutnya.
Kesadaran literasi dan kesolehan sosial dalam moment ini kiranya secepatnya ditetapkan secara berjamaah. Sebagaimana yang dilakukan Almarhum Gusdur menetapkan Imlek sebagai hari besar saat ia menjadi Presiden.
Katagori : Artikel Edukasi
Penulis : V. Brahmana
Editor : Admin1































































