Sahabatnews.com-MEDAN Gelombang kritik terhadap kepemimpinan Wali Kota Medan kembali mencuat. Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Kota Medan bersama Pengurus Cabang Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PC SEMMI) Kota Medan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Medan, Jumat (6/3/2026).
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk evaluasi terhadap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Medan, Rico Waas, yang dinilai belum mampu menjawab berbagai persoalan mendasar yang masih dirasakan masyarakat di Kota Medan.
Dalam aksi itu, mahasiswa melontarkan satu pertanyaan tajam kepada Pemerintah Kota Medan:
“Apakah Medan benar-benar untuk semua, atau hanya untuk kepentingan segelintir orang dan oknum tertentu?”
Mahasiswa Soroti Banjir, Sampah, hingga Lapangan Kerja
Dalam orasi yang bergema di depan Kantor Wali Kota, massa aksi membeberkan sejumlah persoalan yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kota Medan.
Mahasiswa menyoroti persoalan banjir yang terus berulang di berbagai wilayah, kualitas pelayanan publik yang dinilai belum maksimal, serta pengelolaan sampah dan lingkungan yang masih jauh dari kata ideal.
Tak hanya itu, mahasiswa juga mendesak adanya transparansi dan akuntabilitas dalam birokrasi pemerintahan daerah, serta kebijakan ekonomi yang dinilai harus lebih berpihak kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta masyarakat ekonomi lemah.
Isu lapangan pekerjaan bagi generasi muda, pemerataan akses pendidikan, serta layanan kesehatan juga turut menjadi sorotan dalam aksi tersebut.
Menurut mahasiswa, berbagai persoalan tersebut merupakan realitas yang masih dirasakan langsung oleh masyarakat Kota Medan.
Rico Waas Tidak Hadir, Situasi Aksi Sempat Memanas
Mahasiswa berharap aksi tersebut dapat menjadi ruang dialog langsung dengan Wali Kota Medan, Rico Waas, agar aspirasi dapat disampaikan secara terbuka.
Namun hingga aksi berlangsung, Rico Waas tidak hadir menemui massa aksi yang telah berkumpul di depan Kantor Wali Kota Medan.
Ketidakhadiran itu memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa. Situasi sempat memanas ketika massa aksi mencoba mendesak agar perwakilan pemerintah kota menemui mereka.
Ketegangan sempat terjadi antara massa aksi dengan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berjaga di sekitar lokasi.
Sebagai bentuk protes simbolik, sejumlah mahasiswa melempar telur busuk ke arah gerbang Kantor Wali Kota Medan.
Aksi tersebut disebut sebagai simbol kekecewaan terhadap sikap pemerintah kota yang dinilai tidak membuka ruang dialog secara langsung dengan mahasiswa.
SEMMI: Pemimpin Tidak Boleh Menutup Ruang Dialog
Ketua PC SEMMI Kota Medan, M. Andi Samudra Pinem, menyampaikan kekecewaannya terhadap ketidakhadiran Wali Kota Medan dalam aksi tersebut.
Menurutnya, mahasiswa datang dengan niat menyampaikan aspirasi masyarakat secara terbuka dan konstruktif.
“Kami sangat menyayangkan Wali Kota Medan tidak hadir menjumpai massa aksi hari ini. Mahasiswa datang untuk meminta penjelasan terkait berbagai persoalan di Kota Medan. Seorang pemimpin seharusnya tidak menutup ruang dialog dengan masyarakat,” tegas Andi.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pihaknya telah mengundang Wali Kota Medan dalam debat terbuka evaluasi satu tahun kepemimpinan, namun undangan tersebut juga tidak dihadiri meskipun sempat terjadi komunikasi dengan pihak protokoler.
Mahasiswa Desak Pemerintah Kota Lebih Terbuka
Mahasiswa menilai kritik yang mereka sampaikan merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan daerah.
Karena itu, mereka berharap Pemerintah Kota Medan dapat lebih terbuka terhadap kritik dan tidak alergi terhadap masukan dari mahasiswa maupun masyarakat sipil.
Menurut mereka, dialog terbuka merupakan bagian penting dari pemerintahan yang demokratis dan transparan.
Aksi Jilid II Akan Digelar
Aliansi mahasiswa dari PC SEMMI Kota Medan dan EK LMND Kota Medan memastikan gerakan ini tidak akan berhenti sampai di sini.
Sebagai bentuk konsistensi gerakan, mahasiswa berencana menggelar aksi lanjutan (Aksi Jilid II).
Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada:
Hari/Tanggal: Kamis, 12 Maret 2026
Tempat: Kantor Wali Kota Medan
Mahasiswa berharap pada aksi berikutnya Wali Kota Medan dapat hadir secara langsung untuk berdialog dengan mahasiswa dan menjawab berbagai persoalan yang mereka sampaikan.
“Gerakan ini adalah bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk memastikan bahwa Kota Medan benar-benar dikelola untuk kepentingan masyarakat luas, bukan untuk kepentingan segelintir pihak,” ujar Andi.
Di akhir aksi, mahasiswa kembali menegaskan pertanyaan yang mereka tujukan kepada Pemerintah Kota Medan:
“Apakah Medan untuk semua, atau hanya untuk kepentingan segelintir orang?”
✍️ Pewarta: TN
✍️ Editor: Admin




























































