Sahabatnews.com-Jakarta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya dirancang pemerintah untuk memastikan gizi anak sekolah justru memantik perdebatan. Bukannya menuai pujian, program ini malah ramai diperbincangkan karena isu soal kualitas makanan yang dianggap tidak sepadan dengan anggaran.
Keresahan publik makin menjadi setelah muncul tudingan bahwa pengusaha dapur yang menjadi mitra MBG meraup untung besar, sementara anak-anak hanya mendapatkan menu dengan porsi dan gizi yang dinilai seadanya. Media sosial ramai dengan keluhan, bahkan politisi ikut bersuara lantang.
Menanggapi itu, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya buka suara. Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak berdasar. Ia menjelaskan secara rinci bagaimana dana Rp15 ribu per porsi sebenarnya dialokasikan.
“Rp2.000 itu bukan keuntungan, melainkan biaya sewa usaha untuk gedung, lahan, hingga perlengkapan dapur yang nilainya miliaran rupiah. Rp3.000 lainnya dipakai untuk operasional sehari-hari, termasuk gaji pekerja, listrik, gas, dan transportasi. Sisanya, Rp10 ribu, murni digunakan untuk bahan makanan,” ujar Nanik, Minggu (28/9/2025).
Ia menepis anggapan bahwa hanya Rp7–8 ribu yang dipakai untuk membeli bahan baku. Menurutnya, pembelanjaan bahan bisa berbeda tiap hari, misalnya untuk susu atau lauk tertentu yang tidak diberikan setiap kali.
Lebih jauh, Nanik menekankan sistem keuangan program MBG sangat ketat. Dana yang belum terpakai disimpan dalam rekening virtual, dipantau Kementerian Keuangan, dan diaudit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “Sulit bagi pengusaha dapur mengambil untung berlebihan. Semua ada mekanisme kontrol,” katanya.
Namun, suara kritik tetap bergema. Politisi Partai Demokrat Andi Arief misalnya, menuding akar persoalan kasus keracunan siswa berasal dari permainan keuntungan pengusaha dapur. Lewat akun X, ia menyebut kualitas makanan tergerus karena pengusaha lebih mementingkan margin daripada gizi.
Kondisi ini menempatkan publik dalam dilema. Di satu sisi, program makan gratis dianggap langkah mulia untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi pelajar. Di sisi lain, isu soal dana dan kualitas makanan yang beredar membuat masyarakat bertanya-tanya: apakah tujuan mulia itu benar-benar tercapai?
Penulis: Sahabatnews.com
Editor: Admin1


































































