Sahabatnews.com-Medan Deretan proyek bermasalah Pemko Medan di era kepemimpinan Wali Kota Bobby Nasution semakin panjang.
Setelah kasus mangkraknya Stadion Teladan dan Islamic Center, serta kekacauan revitalisasi Lapangan Merdeka dan Kebun Bunga, kini sorotan publik tertuju pada proyek besar Gedung Kolaborasi UMKM Square Universitas Sumatera Utara (USU) yang tak kunjung selesai.
Proyek yang dikelola Dinas Perumahan Kawasan Permukiman, Cipta Karya, dan Tata Ruang (Perkimcitaru) Kota Medan itu awalnya digadang-gadang sebagai pusat pengembangan UMKM di kampus USU.
Namun, fakta di lapangan justru memunculkan aroma dugaan korupsi, sebagaimana diungkap dalam hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).Dari Janji Manis ke Proyek MangkrakSejak awal, proyek ini menuai kecurigaan.
Pembangunan gedung UMKM disebut-sebut merupakan hasil “balas jasa” politik antara USU dan Bobby Nasution. Rektor USU kala itu terang-terangan mendukung Bobby di Pilkada Medan, dan sebagai kompensasi, Pemko Medan mengucurkan anggaran jumbo untuk membangun fasilitas tersebut di dalam area kampus.
Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan, pagu awal proyek ini mencapai Rp105 miliar, dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sekitar Rp99,14 miliar.
Kontraktor pelaksana adalah PT Karya Bangun Mandiri Persada.Pada 2025, proyek ini kembali mendapat tambahan anggaran sebesar Rp19,05 miliar untuk sarana dan prasarana pendukung.
Secara kumulatif, dana yang sudah digelontorkan mencapai Rp116,7 miliar – Rp122 miliar.Namun, meski anggaran terus membengkak, fisik bangunan hingga kini belum rampung. Proyek terbengkalai, manfaatnya nol bagi masyarakat.
Pejabat Dekat Bobby ‘Cuci Tangan’Alexander Sinulingga, Kepala Dinas Perkimcitaru yang menangani proyek ini, justru dipindahkan Bobby Nasution ke Provinsi Sumut sebagai Kepala Dinas Pendidikan.
Alexander dikenal sebagai orang dekat Bobby dan kerap mengerjakan proyek strategis bersama. Sayangnya, keduanya kerap meninggalkan proyek dalam kondisi amburadul.Plt Kadis Perkimcitaru saat ini, Melvi Marlabayana, mengaku enggan melanjutkan pekerjaan sebelum ada kejelasan dari hasil audit BPK.
Temuan audit tersebut mengindikasikan adanya ketidaksesuaian spesifikasi dan volume pekerjaan, dengan potensi kelebihan bayar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar lebih.Bukan Kasus TunggalGedung UMKM USU bukan satu-satunya masalah.
Publik masih mengingat bagaimana revitalisasi Gedung Warrenhuis di Kesawan berakhir sia-sia, ruang bawah tanah Lapangan Merdeka menjadi kubangan air bau busuk, Islamic Center mangkrak, dan Stadion Teladan tak jelas nasibnya.
Semua proyek ini menyedot anggaran ratusan miliar rupiah namun minim manfaat bagi warga.Jerat Hukum Terkendala PolitikMeski ada temuan BPK, peluang penegakan hukum terhadap proyek ini dinilai tipis.
Sumber internal menilai lembaga hukum, seperti Kejaksaan, enggan membongkar kasus yang melibatkan Bobby Nasution karena pengaruh politik nasional.
“Jangan harap Bobby bisa tersentuh hukum. Sistem hukum kita masih tunduk pada bayang-bayang kekuasaan,” ujar sumber tersebut.Kini, Wali Kota Medan yang baru, Rico Waas, mewarisi PR besar untuk menyelesaikan proyek mangkrak warisan Bobby.
Namun, jika tidak ada keberanian politik dan ketegasan hukum, Gedung UMKM USU berpotensi menjadi monumen kemubaziran anggaran.
Kalau mau, saya bisa buatkan judul-judul alternatif yang lebih “menggigit” dan berpotensi viral untuk artikel ini, supaya bisa menarik trafik tinggi dan masuk perbincangan publik.
Pewarta : TN
Editor : Admin



























































