Sahabatnews.com-Medan Proyek pembangunan kolam retensi dan gedung UMKM Square di Universitas Sumatera Utara (USU) kembali mencuat setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Rektor USU, Muryanto Amin.
Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas), Sutrisno Pangaribuan, menuding dua proyek kolaborasi ini sarat kepentingan politik. Ia menduga keduanya sebagai bentuk balas jasa kepada Muryanto yang dikenal dekat dan menjadi konsultan politik Gubernur Sumut, Bobby Nasution.
“Patut diduga proyek kolam retensi dan UMKM Square ini adalah bancakan bersama keduanya,” kata Sutrisno melalui pesan elektronik kepada RMOL, Senin (18/8/2025).
Proyek Kolam Retensi Rp20 Miliar
Kolam retensi di kawasan kampus USU dibangun pada 2023 saat Bobby masih menjabat Wali Kota Medan. Proyek ini dikelola Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi Kota Medan dengan anggaran Rp20 miliar.
Kolam berluas 2.875 meter persegi, kedalaman 3,2 meter, dan daya tampung 9.450 meter kubik itu memiliki empat pintu air. Namun, Sutrisno menyebut manfaatnya tidak optimal.
“Faktanya, warga tetap mengeluhkan banjir dan genangan di sekitar USU setiap hujan deras. Jadi apa manfaat sesungguhnya dari proyek ini?” ujarnya yang juga alumni USU.
UMKM Square Rp116 Miliar Mangkrak
Proyek kedua adalah pembangunan Gedung UMKM Square di USU yang dikelola Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya, dan Tata Ruang Pemkot Medan. Nilai kontraknya mencapai Rp97,65 miliar dan dimenangkan PT Karya Bangun Mandiri Persada.
Awalnya, pagu anggaran di LPSE tercatat Rp105 miliar dengan HPS Rp99,14 miliar. Kemudian pada 2025 ditambah Rp19,05 miliar untuk sarana-prasarana pendukung.
Total kumulatif proyek membengkak hingga sekitar Rp116,7 miliar.Namun hingga peringatan HUT ke-80 RI, proyek tersebut mangkrak.
“Pekerjaan seharusnya selesai 31 Agustus 2024, tapi sampai hari ini belum diserahterimakan. Tujuan pembangunan pun tidak jelas,” tegas Sutrisno.
Dugaan Bestie Politik
Menurut Sutrisno, sejak awal perencanaan proyek sudah bermasalah. Ia menyinggung peran Alex Sinulingga dan Topan Obaja Putra Ginting, dua pejabat yang disebut sebagai “bestie” Bobby.
Saat proyek berjalan, Alex menjabat Kadis Perkim dan Topan sebagai Kadis SDA BMBK Medan. Kini, setelah Bobby naik menjadi Gubernur Sumut, Alex ditarik menjadi Kadis Pendidikan Pemprov Sumut, sementara Topan menjabat Kadis PUPR.
“Hubungan kedekatan ini perlu didalami. Jangan-jangan proyek-proyek ini sejak awal sudah dikondisikan,” kata Sutrisno.
Desak KPK Usut Tuntas
Sutrisno mendesak KPK menjadikan pemeriksaan Rektor USU sebagai pintu masuk penyelidikan dua proyek kolaborasi tersebut.
Ia menilai potensi kerugian negara terbuka lebar jika manfaat proyek tidak bisa dijelaskan secara rinci.“Dokumen perencanaan dan kerja sama harus diperiksa.
Ada indikasi pemufakatan jahat antara Bobby dan Muri sejak awal proyek. Apalagi UMKM Square sudah masuk kategori mangkrak. KPK tidak boleh diam,” pungkasnya.
Pewarta : TN
Editor : Admin




























































