Sahabatnews.com-Tapanuli Tengah Banjir bandang yang menghantam wilayah Tapanuli Tengah dan Sibolga memicu kemarahan dari Lembaga Selamatkan Tanah dan Air (SEMATA). Eriza Hudori selaku Bendahara SEMATA menilai pemerintah daerah hingga provinsi tidak boleh lagi berlindung di balik alasan faktor alam, sementara kerusakan lingkungan terus dibiarkan.
Dalam pernyataannya, Eriza menyebut bahwa masyarakat sudah terlalu sering menjadi korban dari kebijakan lingkungan yang lemah dan pengawasan yang minim.
“Rakyat tidak boleh terus dijadikan tameng untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam menjaga lingkungan!” tegasnya dalam nada tinggi.
Ia menyoroti bahwa pembukaan lahan secara brutal, perusakan hutan, dan tata ruang yang tidak berpihak pada keselamatan warga sudah terjadi bertahun-tahun, namun tidak ada upaya koreksi yang jelas dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.
“Stop salahkan hujan! Ini akibat kelalaian kebijakan yang berat. Kalau mitigasi dijalankan sejak awal, korban tidak perlu berjatuhan,” tambahnya.
Eriza menuntut pemerintah:
- Memperbaiki regulasi dan menghentikan izin yang melemahkan daya dukung lingkungan
- Memperkuat mitigasi — pemetaan rawan bencana, rehabilitasi hutan, dan revitalisasi sungai
- Melibatkan lembaga lingkungan dan masyarakat dalam pengawasan serta pengelolaan ruang hidup
Menurutnya, solusi bijak dan tegas harus segera dijalankan sebelum bencana semakin memakan korban.
“Selamatkan tanah, selamatkan air — itu berarti selamatkan manusia. Jangan lagi diam di tengah ancaman maut,” pungkasnya dengan keras.
Kritik dari SEMATA ini diharapkan menjadi pemicu kesadaran dan tindakan nyata dari pemerintah daerah dan provinsi untuk menghentikan siklus bencana yang terus berulang di Tapteng–Sibolga.
✍️ Pewarta: TN
✍️ Editor: Admin





























































