Beranda ARTIKEL PENINGKATAN HASIL PEMBELAJARAN DARING MELALUI APLIKASI ZOOM MEETING DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY...

PENINGKATAN HASIL PEMBELAJARAN DARING MELALUI APLIKASI ZOOM MEETING DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY LEARNING

19
0

DI SDS PANCA BUDI MEDAN

Debby Sabrina Hasibuan

SDS Panca Budi Medan

debbysyabrina@gmail.com

Abstrack : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik melalui pembelajaran daring lewat aplikasi zoom, dengan model pembelajaran inquiry learning. Penelitian ini dilaksanakan di SD Panca Budi Medan kelas 1 dengan mengambil tema 3 kegiatan pagi hari. Di masa pandemi sejak tahun 2020 dan  mengikuti  anjuran  pemerintah, SD pancabudi melaksanakan pembelajaran daring dengan menggunakan alplikasi zoom meeting. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian Kurt Lewin. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas 1 SD Panca Budi Medan. Pengumpulan data diperoleh dari pembelian soal evaluasi yang diberikan setelah penyampaian materi dan disetiap akhir siklus. Penelitian dilaksanakan melalui dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa melalui media aplikasi Zoom Meeting  dengan menggunakan model pembelajaran inquiry learning mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDS Panca Budi Medan yang ditunjukan dengan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Ketuntasan hasil belajar pada siklus I sebesar 60 %  atau 9 siswa sedangkan siklus II ketuntasan hasil belajar mencapai 93 %  atau 14 siswa. Sehingga pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebanyak 33%. Dengan demikian indikator pencapaian mengalami peningkatan.

Kata kunci : hasil belajar, model inquiry learning, zoom meeting

Abstract: this study aims to determine the improvement of student learning outcomes through online learning through the zoom application with the inquiry learning model. This research was conducted at SD Panca Budi Medan grade 1 by taking the theme of 3 activity in the morning. During the pandemic since 2020 and following the government’s recommendation, SD Pancabudi implements online learning using the Zoom Meeting application. The research method used is the research method of Kurt Lewin. The subjects of this study were grade 1 students of SD Panca Budi Medan. Data collection was obtained from the purchase of evaluation questions given after the delivery of the material and at the end of each cycle. The research was carried out in two cycles. The results showed that student learning outcomes through the Zoom Meeting application media using the inquiry learning learning model had a positive influence, namely it could improve the learning outcomes of class I students at SDS Panca Budi Medan, which was indicated by an increase from cycle I to cycle II. Completeness of learning outcomes in the first cycle of 60% or 9 students while the second cycle of complete learning outcomes reached 93% or 14 students. So that in the first cycle to the second cycle has increased by 33%. Thus the achievement indicators have increased.

Keywords: learning outcomes, inquiry learning model, zoom meeting

PENDAHULUAN

Pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia praktis membuat banyak aktivitas tidak bisa berjalan normal atau bahkan terhenti, termasuk di sekolah. Belum adanya pengetahuan yang cukup tentang virus ini membuat banyak pihak tidak mau mengambil resiko untuk melaksanakan kegiatan. Hal itu juga terjadi di SDS Panca Budi Medan. Kegiatan pembelajaran sempat dihentikan sama sekali untuk beberapa waktu. Otoritas pendidikan memang sudah memberikan alternatif model pembelajaran selama masa pandemi ini. Kegiatan pembelajaran boleh dilakukan secara daring dan luring, menyesuaikan dengan keadaan di masing-masing lokasi.

Solusi yang harus dicarikan bagaimana guru tanggung jawab atas tugasnya yang berupaya meningkatkan Hasil Belajar daring dan berupaya pula menguasai materi pelajaran serta strategi yang lebih efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pembelajaran pada abad ke-21 ini memerlukan banyak inovasi dan kreatifitas yang lebih dibandingkan sebelumnya. Perkembangan IPTEK dan pengaruh globalisasi menyebabkan terjadinya perubahan masyarakat dalam berbagai bidang. Perubahan ini berimbas ke ranah pendidikan yang selama ini sudah tertata rapi sesuai dengan peraturan yang berlaku.Salah satu strategi seorang guru untuk meningkatkan Hasil Belajar pembelajaran daring dan hasil belajar siswa adalah penggunaan model pembelajaran yang tepat.

Model pembelajaran inkuiri  (Inquiry Learning Model) merupakan salah satu model yang memenuhi karakteristik dasar suatu model dan kondusif bagi pengimplementasian pendekatan kontruktivisme. Model inkuiri pertama kali dikembangkan oleh Richad Suchman pada tahun 1962 yang memandang hakikat belajar sebagai latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan. Model pembelajaran inkuiri adalah model penemuan yang dirancang guru sesuai kemampuan dan tingkat perkembangan intelektual peserta didik, mengurangi ketergantungan kepada guru dan memberi pengalaman seumur hidup.

Pembelajaran daring merupakan salah satu jenis pembelajaran yang berbasis elektronik. Pembelajaran ini harus memanfaatkan alat-alat canggih seperti handphone pintar atau smartphone, laptop atau komputer dan yang didukung oleh jaringan internet yang memadai. Penyajian pembelajaran daring berbasis web ini bisa menjadi lebih interaktif. Proses pembe- lajaran daring ini tentunya memiliki kele- bihan yakni dapat meminimalisir kontak fisik antar individual, bisa menampilkan beragam media pembelajaran dan dapat dilakukan kapan saja sehingga memungkinkan pembelajaran dilakukan secara fleksibel.

Zoom Meeting adalah sebuah media pembelajaran yang memungkinkan guru dan para peserta didik berinteraksi secara daring melalui sebuah video. Pembelajaran online memanfaatkan penggunaan aplikasi Zoom Meeting memenuhi dua buah teori pembelajaran di antaranya teori behavioristik dan teori komunikasi pendidikan. Law (dalam Sutrisno, 2011:57) mengatakan bahwa media berlandaskan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan media, internet atau web yang dapat digunakan sebagai perantara untuk menggantikan media yang lainnya”.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti akan mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “ Peningkatan Hasil Pembelajaran Daring melalui aplikasi zoom meeting dengan menggunakan model pembelajaran inquiry learning di SDS Panca Budi Medan”

HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN

Menurut Depdiknas (2004) Hasil Belajar pembelajaran adalah keterkaitan sistemik dan sinergis antara guru, siswa, kurikulum dan bahan belajar, media, fasilitas, dan sistem pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler. Indikator Hasil Belajar pembelajaran dapat dilihat antara lain dari perilaku pembelajaran pendidik, perilaku dan dampak belajar peserta didik, hasil belajar, iklim pembelajaran, materi pembelajaran, Hasil Belajar media pembelajaran.

Belajar selalu melibatkan perubahan dalam diri individu seperti kematangan berpikir, berperilaku maupun kedewasaan dalam menentukan keputusan dan pilihan (Tatan dan Teti, 2011). Hasil belajar yang diperoleh manusia dengan mahkluk lain seperti hewan akan berbeda, pada manusia hasil belajar akan terus mengalami perubahan dan perkembangan, sedangkan pada mahkluk lain tidak mengalami perubahan dan perkembangan secara optimal seperti halnya pada manusia .

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 1991). Hasil belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan saja perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan dan penghargaan dalam diri pribadi yang belajar (Nasution, 1994:24). Bisa saya simpulkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa karena adanya suatu perubahan yang terjadi pada individu untuk membentuk kecakapan dan penghargaan dala diri pribadi yang belajar.

Hasil belajar merupakan akibat dari proses belajar seseorang. Hasil belajar terkait dengan perubahan pada diri orang yang belajar. Bentuk perubahan sebagai hasil dari belajar berupa perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan dan kecakapan (Utami et al., 2020). Perubahan dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan tidak dianggap sebagai hasil belajar. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat relatif menetap dan memiliki potensi untuk dapat berkembang (Lestari, 2015).

MODEL INQUIRY LEARNING

National Science Education Standards (NSES) mendefenisikan inkuiri sebagai aktivitas beranekaragam yang meliputi observasi, membuat pertanyaan, memeriksa buku-buku atau sumber informasi lain untuk melihat apa yang telah diketahui; merencanakan investigasi; memeriksa kembali apa yang telah diketahui menurut bukti eksperimen; menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisa menginterpretasikan data, mengajukan jawaban, penjelasan dan prediksi, serta mengomunikasikan hasil

Dari pengertian inkuiri di atas, dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi melalui observasi atau eksperimen untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis.

Dari sudut pandang pembelajaran, model umum inkuiri adalah model mengajar yang dirancang untuk membimbing siswa bagaimana meneliti masalah dan pertanyaan berdasarkan fakta. Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

1. Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran  yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

  1. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
  2. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
  3. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa .

2. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

3. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

4. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

5. Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

6. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat, sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

ZOOM MEETING

Zoom merupakan aplikasi komunikasi dengan menggunakan video. Aplikasi tersebut dapat digunakan dalam berbagai perangkat seluler, desktop, hingga telepon dan sistem ruang. Pada umumnya, para pengguna menggunakan aplikasi ini untuk melakukan meeting hingga konferensi video dan audio. Aplikasi yang berkantor pusat di San Jose, California, Amerika Serikat ini didirikan sejak 2011 lalu dan digunakan oleh berbagai organisasi dan perusahaan untuk mengakomodir para karyawan dari jarak jauh.

Fitur-fitur dalam aplikasi tersebut antara lain,

  1. Video dan audio HD Dengan menggunakan aplikasi ini, Anda tidak perlu khawatir pada gambar dan audio yang dihasilkan. Pasalnya, aplikasi Zoom telah disokong dengan Hasil Belajar high definition atau sering disebut HD. Selain itu, aplikasi Zoom ini juga dapat mendukung hingga 1000 peserta dan 49 video di layar.
  2. Alat kolaborasi bawaan Beberapa pengguna dapat berbagi layar secara bersamaan dan ikut menulis catatan untuk pertemuan yang lebih interaktif dengan alat kolaborasi dari aplikasi Zoom.
  3. Keamanan Terkait keamanannya, para pengguna tidak perlu meragukannya lagi. Pasalnya, aplikasi ini telah disokong dengan end-to-end encryotion untuk seluruh rapat yang telah diagendakan melalui aplikasi Zoom. Selain itu ada pula perlindungan kata sandi hingga keamanan pengguna menjadi lebih aman.
  4. Rekaman dan transkrip Sementara itu, para pengguna juga dapat merekam rapat yang dilakukan dengan Zoom dan menyimpanya secara di perangkat masing-masing yang digunakan atau pada akun cloud. Lebih lanjut, rekaman tersebut dapat ditemukan dengan mudah apabila Anda memerlukannya lagi. Baca juga: Respons Zoom Soal Isu Keamanan dan Privasi Data Pengguna.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang merupakan tindakan reflektif oleh aktor untuk meningkatkan proses pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas adalah refleksi dari kegiatan belajar dalam bentuk tindakan, yang sengaja diangkat dan terjadi di kelas secara bersamaan. Tindakan diberikan oleh guru atau oleh arahan guru yang dibuat oleh peserta didik (Fuad and Hamam 2012; Fuad and Winarsih 2018). PTK dapat dikatakan berhasil jika peserta didik telah belajar banyak bukan berapa banyak guru bertindak. Model riset ini mencakup empat tahap tindakan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. (A. Jauhar Fuad & Ananda Dwi Permatasari, 2019 : 66).

Penelitian ini dilakukan 2 siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 28 September 2020, siklus ke 2 dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 2020. Subjek dari penelitian ini adalah Peserta didik Kelas I SDS Panca Budi Medn T.P 2020/2021 dengan jumlah peserta didik sebanyak 15.

Data kuantitatif dalam bentuk hasil belajar kognitif, dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan rerata. Data kuantitatif akan disajikan sebagai persentase. Data kualitatif disajikan dalam kalimat yang dipisahkan oleh kategori untuk mendapatkan kesimpulan. Data kualitatif ini diperoleh dari mengolah data yang diperoleh dari instrumen pengamatan aktivitas peserta didik atau instrumen pengamatan keterampilan guru.

Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif yaitu menggambarkan hasil belajar, apakah ada peningkatan dan apabila hasil belajar dikatakan meningkat jika 70% nilainya berada di atas KKM atau di atas 75 (Sudarsono, 2005). Analisis ini digunakan untuk menganalisis apakah ada peningkatan hasil belajar siswa melalui aplikasi Zoom Meeting dengan rumusan masalah “Apakah pembelajaran daring mellui zoom meeting dengan menggunakan model pebelajaran inquiry learningdapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDS Panca Budi Medan?” dengan cara melakukan pemberian tes.

Untuk menghitung skor rata-rata siswa menggunakan rumus (Sudjana 2006:109) = 𝑋=Σ𝑥𝑁

Keterangan :

X : Nilai rata-rata

Σx : Jumlah semua nilai siswa

N : Banyaknya siswa

Penelitian dapat dikatakan berhasil jika telah mencapai indikator yang ditetapkan dalam penelitian ini yaitu : Hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran daring melalui zoom meeting dengan menggunakan model pembelajaran inquiry learningmencapai 70% pada nilai KKM

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peneliti memperoleh data hasil penelitian dari hasil 2 siklus penelitian. Berdasarkan kedua siklus penelitian, semuanya menerapkan penggunaan media aplikasi Zoom Meeting dan menggunakan model pembelajaran inquiry learning. Kedua siklus penelitian tersebut dilaksanakan di SDS Panca Budi Medan kelas 1 yang terfokus pada penggunaan media aplikasi Zoom Meeting di sekolah dasar.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana masing-masing siklus terdapat 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai jadwal kelas I dengan alokasi waktu setiap tatap muka 35 menit. Hasil penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II dengan menerapkan aplikasi Zoom Meeting dan mengunakan model pembelajaran inquiry learning adalah sebagai berikut:

Siklus 1

1. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan Peneliti melakukan ijin keda kepala sekolah SD Panca Budi Medan. Kemudin peneliti menganalisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan dicapai peserta didik Kelas I SDS Panca Budi Medan. Selain itu, perencanaan dilakukanndengan merancang desain perangkat pembelajaran yang berupa silabus, RPP, bahan ajar, media dan lembar penilaian afektif, kognitif, dan psikomotor.

2. Tahap Pelaksanaan

Pemebelajaran pertama dilaksanakan pada hari Jum’at, 28 Sepember 2020 dimana sebelum pembelajaran dimulai peneliti terlebih dahulu membagikan link zoom meeting kepada para peserta didik melalui group chat whatsapp. Selanjutnya, pendidik mempersiapkan siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan memperhatikan kerapian dan sikap peserta didik agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Peneliti melakukan langkah- langkah awal pembelajaran. Peserta didik menjawab pertanyaan pada kegiatan apersepsi yang ditanyakan peneliti yang dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran oleh peneliti.

3. Pengamatan / Observasi

Pada tahap pengamatan dilakukan bersamaan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang terjadi dan atau yang berkaitan dengan proses pembelajaran saat penelitian tindakan berlangsung. Sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan rancangan dan skenario yang telah dibuat. Dan dilaksanakan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketercapaian siswa yang diharapkan pada pembelajaran tersebut. Berikut ini merupakan tabel hasil belajar kelompok siklus I :

                       Tabel Hasil Belajar Siswa Siklus I

NoNamaNilaiKeterangan
1Azka60Belum tuntas
2Azril100Tuntas
3Khanza80Tuntas
4Raisa60Belum tuntas
5Azzam80Tuntas
6Akbar60Belum Tuntas
7Inaya60Belum Tuntas
8Nindita100Tuntas
9Nisa80Tuntas
10Yasser80Tuntas
11Zhill60Tuntas
12Abiyu80Tuntas
13Cia80Tuntas
14Putri60Belum Tuntas
15Andara60Belum Tuntas
 Jumlah1.100 
 Rata-rata73.33 
 Nilai tertinggi100 
 Nilai terendah60 

Berdasarkan data di atas, maka masih perlu adanya perbaikan pembelajaran pada siklus 1. Hal itu dikarenakan masih ada 6 siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Hal itu menunjukkan 40%siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM, sedangkan yang memperoleh diatas KKM ada 9 siswa. Hal itu menunjukkan 60% siswa yang memperoleh nilai diatas KKM. Dengan adanya kondisi tersebut, perlu adanya perbaikan pembelajaran terutama dalam penggunaan media. Awalnya kurang optimal sehingga perlu dioptimalkan lagi dalam penggunaan model pembelajaran inquiry learning melalui pembelajaran daring lewat aplikasi zoom meeting.

4. Refleksi

Dalam tahap refleksi ada kegiatan akhir yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan yang meliputi analisis, evaluasi, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila terdapat masalah atau belum mencapai tujuan yang diharapkan maka dilakukan proses pengkajian atau perbaikan dan diterapkan pada siklus selanjutnya.

Berdasarkan Tabel 1.1 hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa nilai rata- rata 15 siswa adalah . Siswa yang sudah mampu mencapai ketuntasan belajar 60% atau 9 siswa dan yang belum tuntas 40% atau 5 siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih kurang, hal ini disebabkan karena guru banyak memberikan ceramah sehingga siswa masih kurang aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian, maka akan dilakukan perbaikan dalam pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II agar hasil belajar siswa meningkat. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran pada siklus berikutnya antara lain dengan cara: a) Mengajak siswa berdiskusi agar siswa lebih aktif dan berpikir kritis melalui model inquiry learning, b) Merancang media power point yang menarik disertai animasi-animasi agar siswa lebih tertarik dalam pembelajaran dengan media aplikasi Zoom Meeting

Siklus II

  1. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini dimulai dari peneliti mengajukan permohonan izin kepada kepala sekolah. Kemudian peneliti bekerja sama dengan guru kelas melakukan penemuan masalah yang terjadi di kelas dan merancang tindakan yang akan dilakukan, seperti:

  1. Menemukan masalah penelitian yang ada dilapangan dengan melakukan diskusi dengan guru  melalui observasi dalam pembelajaran daring.
  2. Membuat perangkat pembelajaran yang berguna sebagai pedoman guru dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran daring.
  3. Menyusun soal tes, Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD), dan lembar observasi.
  • Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Oktober 2020 sesuai dengan jadwal mata pelajaran Matematika, pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I sesuai dengan RPP siklus I. Langkah-langkahnya sebagai berikut :

  1. Guru mengirim link ke WhatsApp Grup.
  2. Siswa masuk ke Zoom Meeting
  3. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

3. Pengamatan / Observasi

Pada tahap pengamatan dilakukan bersamaan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang terjadi dan atau yang berkaitan dengan proses pembelajaran saat penelitian tindakan berlangsung. Sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan rancangan dan skenario yang telah dibuat. Dan dilaksanakan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketercapaian siswa yang diharapkan pada pembelajaran tersebut. Data hasil belajar siswa diperoleh dengan cara menjawab pertanyaan pada lembar soal evaluasi pada akhir pembelajaran atau post test. Pada data tersebut menunjukkan bahwa dari jumlah 14 siswa, 13 siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar (92%) dan hanya 1 siswa belum mencapai ketuntasan belajar (8%). Berikut ini merupakan tabel hasil belajar siklus II :

NoNamaSiklus ISiklus II
NilaiKeteranganNilaiKeterangan
1Azka60Belum tuntas60Belum Tuntas
2Azril100Tuntas100Tuntas
3Khanza80Tuntas100Tuntas
4Raisa60Belum tuntas100Tuntas
5Azzam80Tuntas100Tuntas
6Akbar60Belum Tuntas80Tuntas
7Inaya60Belum Tuntas100Tuntas
8Nindita100Tuntas100Tuntas
9Nisa80Tuntas100Tuntas
10Yasser80Tuntas100Tuntas
11Zhill60Tuntas100Tuntas
12Abiyu80Tuntas100Tuntas
13Cia80Tuntas100Tuntas
14Putri60Belum Tuntas80Tuntas
15Andara60Belum Tuntas100Tuntas
 Jumlah1.100Jumlah1.420 
 Rata-rata73,33Rata-rata94,67 
 Nilai tertinggi100Nilai tertinggi100 
 Nilai terendah60Nilai terendah60 

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan hasil belajar siswa siklus II mengalami peningkatan dari siklus I dan telah telah mencapai 93% hasil belajarnya sudah melebihi KKM. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas yaitu 94,67 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60, serta jumlah siswa yang tuntas ada 14 siswa atau 93% dan yang belum tuntas hanya 1 siswa atau 7%. . Hal ini  menunjukkan bahwa adanya peningkatan dari siklus I yaitu dilihat dari yang siswa yang sudah tuntas pada siklus I yaitu 60%, sedangkan pada siklus II yang sudah tuntas 93% sehingga dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan 33%.

4. Refleksi  

Pada tahap refleksi adalah kegiatan akhir yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan yang meliputi analisis, evaluasi, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila terdapat masalah atau belum mencapai tujuan yang diharapkan maka dilakukan proses pengkajian atau perbaikan dan diterapkan pada siklus selanjutnya dan apabila sudah ssesuai harapan maka penelitian ini hanya sampai pada siklus II.

Berdasarkan tael 1.2 hasil belajar siswa pada siklus II menunjukkan bahwa nilai rata- rata 15 siswa adalah 94,67. Siswa yang sudah mampu mencapai ketuntasan belajar ada 93% atau 14 siswa dan yang belum tuntas ada 7% atau 1 siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sudah ada peningkatan dan sesuai dengan harapan, hal ini disebabkan karena pada pertemuan kedua ini guru menggali pengetahuan siswa dengan cara berdiskusi dan berpikir kritissehingga anak lebih tertarik dan lebih antusias dalam belajar secara daring. Selain itu siswa sudah mulai aktif, tidak malu, mulai percaya diri dan mau mengeluarkan pendapat atau jawabannya

Dalam pelaksanaan siklus II guru sudah mengunakannya dengan baik hal ini dapat terlihat dari aktivitas siswa dan hasil belajar siswa sudah meingkat. Untuk itu tidak perlu dilakukan perbaikan pembelajaran siklus berikutnya, tetapi meskipun tidak dilanjutkan siklus berikutnya guru tetap harus memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar.

PEMBAHASAN

Penguasaan terhadap konsep pada proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Namun hasil belajar dalam pelaksanaan penelitian memperlihatkan bahwa siswa yang sangat aktif belum tentu memperlihatkan hasil belajar yang baik pula, hal ini dapat dilihat dari hasil yang di dapat dari siklus 1 dan siklus 2. Hal ini sangat mempengaruhi keberanian dan kepercayaan diri mereka saat di kelas sehingga berdampak pada hasil belajar yang kurang memuaskan.

Sedangkan pada siklus II ketuntasan hasil belajar siswa meningkat. Hasil belajar siswa dapat dilihat pada penilaian evluasi siswa. Pada siklus II dikatakan berhasil karena hasil belajar siswa meningkat dibandingkan siklus I. Hasil belajar siswa pada siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan ketuntasan yaitu 33% sedangkan ketidaktuntasan atau belum tuntas menurun yaitu 33%.

Media pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai tujuan dari pembelajaran. Hal ini disebabkan media merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan isi dari pem- belajaran. Daryanto (2010) menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra, selain itu media pembelajaran dapat menimbulkan gairah belajar. Pengembangan media pembelajaran diperlukan untuk mampu mengatasi masalah- masalah dalam proses belajar, salah satu bentuk dari pengembangan media pembelajaran adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) (Astra, 2012).

Penggunaan model pembelajaran juga sangat mendukung siswa aktif dalam proses pembelajaran daring. Model pembelajaran inquiry learning sangat cocok digunakan saat pembelajaran daring. Model pembelajaran inquiry dirancang untuk membimbing siswa bagaimana meneliti masalah dan pertanyaan berdasarkan fakta. Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. model pembelajaran inkuiri adalah model penemuan yang dirancang guru sesuai kemampuan dan tingkat perkembangan intelektual peserta didik, mengurangi ketergantungan kepada guru dan memberi pengalaman seumur hidup.

Pembelajaran dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting dapat membantu siswa dalam memahami konsep materi pembelajaran dengan baik, siswa akan mampu memecahkan masalah dengan berpikir secara kritis. Siswa tidak hanya sekedar duduk mendengarkan guru menjelaskan materi melainkan siswa wajib terlibat aktif dalam pembelajaran untuk mampu memecahkan masalah yang diberikan guru sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif yang dimilikinya dan dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan media aplikasi Zoom Meeting yang meningkat dari siklus I ke siklus II. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran daring melalui apikasi zoom dengan menggunakan model pembelajaran zoom inquiry learning dapat meningkatkan  hasil belajar siswa kelas I SDS Panca Budi Medan  dan mendapat tanggapan baik dari siswa. Sehingga hipotesis penelitian ini diterima.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada siswa kelas I SDS Panca Budi Medan  yang dilaksanakan selama 2 siklus maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran daring melalui aplikasi zoom dengan menggunakan model pembelajaran inquiry learningg dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas I SDS Panca Budi Medan. Dari hasil analisis data observasi yang dilaksanakan pada saat pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran inquiry melalui aplikasi zoom meeting  terdapat peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I dan siklus II.

Peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran daring melalui aplikasi zoom meeting dengan menggunakan  model pembelajaran inquiry learningmempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDS Panca Budi Medan  yang ditunjukan dengan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Ketuntasan hasil belajar pada siklus I sebesar 60% atau 9 siswa sedangkan siklus II ketuntasan hasil belajar mencapai 93% atau 14 siswa. Sehingga pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebanyak 33%. Dengan demikian indikator pencapaian mengalami peningkatan.

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka ada beberapa saran dari peneliti berkaitan pembelajaran daring melalui aplikasi zoom meeting dengan menggunakan model pembelajaran inquiry learning . Saran yang dapat peneliti berikan yaitu sebagai berikut. Bagi Sekolah, adanya peningkatan hasil belajar siswa pada peneitian ini, maka aplikasi Zoom Meeting dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran secara daring di masa pandemi ini.. Pihak sekolah dapat terus mengembangkan penggunaan aplikasi Zoom Meeting agar pembelajaran daring lebih efektif. Bagi Guru,Guru sebaiknya dapat mengoptimalkan penggunaan aplikasi Zoom Meeting dalam pembelajaran daring untuk peningkatan hasil belajar siswa, dimana siswa dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu. Selain itu dengan menerapkan model pembelajaran inquiry learning pada pembelajaran daring membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar. Bagi Siswa, siswa hendaknya lebih memotivasi diri agar terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran daring dengan menggunakan media aplikasi Zoom Meeting.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Hasil Belajar Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Astra, I. M. (2012). Aplikasi Mobile Learning Fisika dengan Menggunakan Adobe Flash sebagai Media Pembelajaran Pendukung. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 18(2), 174. https://doi.org/10.24832/jpnk.v18i2.79

Hadi, B. (2015). Pengembangan ICT dalam Pembelajaran Pengembangan ICT dalam Pembelajaran. Pengembangan ICT Dalam Pembelajaran, November, 36–44.

Haqien, D., & Rahman, A. A. (2020). Pemanfaatan Zoom Meeting Untuk Proses Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19. SAP (Susunan Artikel Pendidikan), 5(1), 51–56.

Muhson, A. (2010). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 8(2). https://doi.org/10.21831/jpai.v8i2.949

Penelitian, A. M. (2016). Bab I Metode Penelitian 1. 1–18.

Studi, P., Informasi, T., & Purworejo, U. M. (2020). Pembelajaran Online yang Efektif di Masa Pandemi Covid-19 Studi Kasus di SMP Negeri 4 Pakem Sleman. 3.

Sudarsono. (2005). Penerapan Metode Penemuan Terbimbing Dalam Pembelajaran Persegi Panjang. NASPA Journal, 42(4), 1.

Utami, Y. P., Alan, D., Cahyono, D., & Indonesia, U. T. (2020). STUDY AT HOME : ANALISIS KESULITAN BELAJAR. 1(1), 20–26.

Widayati, A. (2014). Penelitian Tindakan Kelas. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 6(1), 1–22. https://doi.org/10.21831/jpai.v6i1.1793

Sanjaya, Wina. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

http://bintangkecildelapan.blogspot.co.id/2012/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_24.html diakses pada tanggal 21 Maret 2016 pukul 21.01 WIB.

http://conaxe.com/v1/page-1472-model-pembelajaran-inquiry.html diakses pada tanggal 21 Maret 2016 pukul 21.37 WIB

Penulis ; DEBBY SABRINA HASIBUAN

Editor ; T$

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here