Medan — Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diwarnai pernyataan sikap keras dari HMI Cabang Medan. Organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia itu menyatakan kekecewaan mendalam sekaligus kemarahan intelektual atas keputusan Presiden Prabowo Subianto membawa Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BOP).
Bagi HMI Medan, keputusan tersebut bukan sekadar kekeliruan diplomatik, melainkan sinyal berbahaya pergeseran arah politik luar negeri Indonesia yang dinilai mulai kehilangan kompas kemanusiaan. BOP dianggap bukan forum yang lahir dari semangat keadilan global, melainkan konstruksi elite internasional yang gagal — bahkan enggan — bersikap tegas terhadap penindasan dan kejahatan kemanusiaan, khususnya terhadap rakyat Palestina.
Ketua Bidang Pembangunan Demokrasi dan Politik HMI Cabang Medan, Ilham Panggabean, menilai bergabungnya Indonesia ke dalam BOP mencerminkan degradasi sikap moral negara di panggung global.
“BOP digagas oleh aktor-aktor internasional yang memiliki rekam jejak kebijakan abai terhadap penderitaan rakyat Palestina. Ketika Indonesia masuk tanpa pernyataan sikap yang tegas dan bermartabat, maka yang terjadi bukan diplomasi aktif, melainkan penyesuaian diri terhadap narasi kekuasaan global yang timpang,” tegas Ilham, Jumat (—).
Situasi ini, lanjut Ilham, semakin memprihatinkan dengan beredarnya informasi bahwa keanggotaan dalam BOP justru disertai pungutan biaya bagi anggota baru. Jika informasi tersebut benar, maka publik berhak mempertanyakan arah dan harga diri politik luar negeri Indonesia.
“Sejak kapan Indonesia harus membayar untuk duduk di forum yang mengklaim diri sebagai forum perdamaian? Apakah martabat politik luar negeri kita kini bisa dinegosiasikan dengan skema iuran? Ini bukan lagi soal diplomasi, tapi soal harga diri negara,” ujarnya.
HMI Medan menilai kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar dan menyakitkan: apakah politik luar negeri Indonesia sedang berada pada fase paling lemah dan paling tidak percaya diri dalam sejarah modernnya? Prinsip politik luar negeri bebas dan aktif dinilai telah bergeser menjadi bebas, pasif, dan kehilangan arah.
Indonesia yang dahulu dikenal lantang menentang penjajahan dan penindasan, kini justru dinilai memilih bergabung dengan forum internasional yang tidak berani secara tegas menyebut siapa penindas dan siapa korban.
Di usia ke-79 tahun, HMI menegaskan tidak akan diam melihat pembelokan nilai tersebut. HMI Cabang Medan secara tegas menuntut penjelasan terbuka dan pertanggungjawaban politik dari Presiden serta Pemerintah Indonesia atas keputusan bergabungnya Indonesia dengan BOP.
“Bangsa besar tidak diukur dari seberapa sering ia duduk di forum internasional, tetapi dari keberaniannya berdiri tegak membela mereka yang tertindas,” pungkas Ilham.
✍️ Pewarta: TN
✍️ Editor: Admin





























































