Sahabatnews.com-Medan | Saatnya seleksi calon Rektor UIN SU lebih mempertimbangkan kualitas, integritas dan visi PTKIN anti korupsi. Tak terlihat penjaringan oleh panitia yang dipimpin oleh Prof. DR. Sukiman, M. Si menetapkan kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada kerinduan kampus sebagai zonasi wilayah berintegritas. Ada 15 calon rektor selain bentuk demokrasi yang tumbuh di kampus, apakah seleksi ini memberi optimisme kemajuan UIN SU?
Jika terplih sudah terlihat jelas langkah konkrit visi misi begitu juga persoalan yang lalu dari dua Rektor terlihat solusi konkret atas gedung mangkrak, tanah Sena 100 Ha, Mahad dan potensi lain agar asset lembaga keislaman yang lagi dipertaruhkan image dan harapan umat Islam Indonesia khususnya di Sumut.
Mari kita kawal pemilihan ini dengan pola persaudaraan Islam, yang terpilih kita dukung tanpa ada intervensi politik. Mari kita suguhkan politik ukhuwah yang saling mengisi. Profesor bukan jaminan untuk tidak terjebak politik sesaat, 15 Profesor calon rektor punya potensi dan program untuk memajukan UIN SU.
Semoga seleksi ini akan melahirkan potret UIN SU Medan yang kolaborasi lintas disiplin ilmu, integrasi yang sesungguhnya pusat kajian Islam, pusat peradaban Islam dan memberi kemajuan bangsa. Ada harapan baru bahwa rektor terpilih punya komitmen tidak bermasalah secara hukum dan tidak mau dintervensi, bisa kolaborasi dengan Ormas Islam NU, Muhammadiyah, Al Washliyah, MUI, pesantren, lembaga keagamaan lainnya dan Pemerintah Propinsi Sumut.
Semoga rektor baru yang dipilih Menteri Agama RI bukan rektor titipan dari partai politik atau siapapun itu, ranah kampus harus independen, meski sulit tapi seluruh dosen, pegawai dan mahasiswa UIN SU menaruh harapan dengan ikhlas agar setelah terpilih rektor nantinya menyusun pejabat secara baik, menggunakan cara akademik dan aturan yang ada, mempertimbangkan keilmuan di Fakultas dan Prodi.
Penulis : Sahabatnews.com
Editor : Admin1




























































